Imam Muhammad Baqir as: “Orang yang mencari ilmu dengan tujuan mendebat ulama (lain), mempermalukan orang-orang bodoh atau mencari perhatian manusia, maka bersiap-siaplah untuk menempati neraka. Kepemimpinan tidak berhak dimiliki kecuali oleh ahlinya”.
LAKUKAN SEKECIL APAPUN YANG KAU BISA UNTUK BELIAU AFS, WALAU HANYA MENGUMPULKAN TULISAN YANG TERSERAK!

فالشيعة هم أهل السنة

Kamis, 10 November 2011

ANTOLOGI ISLAM (IV) BAB 4 IMAMAH VERSUS KENABIAN


BAB 4
IMAMAH VERSUS KENABIAN


Kaum Syi’ah meyakini bahwa derajat Imamah (kedudukan pemimpin yang
dipilih Allah SWT) lebih tinggi daripada keNabian atau keRasulan. Perhatikanlah bahwa di sini kami membandingkan derajat kedudukan dan bukan derajat seseorang. Dengan demikian dua orang imam pilihan Allah SWT yang keduanya memiliki posisi yang mungkin sama di mata Allah SWT, mempunyai derajat yang berbeda. Contohnya, di samping dua belas Imam Ahlulbait, Imam Ali bin Abi Thalib as adalah yang paling saleh.

Demikian juga, Nabi Muhammad SAW lebih saleh daripada Imam Ali as meskipun keduanya dipilih Allah SWT sebagai pemimpin. Dengan kata lain, Nabi Muhammad SAW derajatnya lebih tinggi di antara umat manusia, dan makhluk Allah yang paling saleh, paling dihormati di hadapan Allah SWT. Keyakinan di atas tidak meruntuhkan kedudukannya karena Nabi Muhammad SAW adalah seorang Imam pada zamannya juga.


Namun, membandingkan ‘tugas’ Nabi Muhammad SAW dan Imam bagaikan membandingkan apel dan jeruk atau seperti membandingkan tugas seorang dokter dan ahli teknik. Imamah dan keNabian sangat berbeda fungsinya meskipun keduanya dapat ada pada diri seseorang seperti pada Nabi Muhammad SAW atau Nabi Ibrahim as.

Bukti dari Quran

Orang-orang yang mengenal Quran hingga tahap tertentu, mengetahui bahwa keyakinan ini bukan sesuatu yang aneh. Sebenarnya Quran memberikan bukti bahwa  kedudukan imamah lebih tinggi dari pada kedudukan keNabian atau keRasulan. Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung berfirman,  



Dan takala Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa perintah, ia melaksanakannya. Kemudian Ia be rkata, “Dengarlah! Aku menunjukmu sebagai pernimpin bagi umat manusia.” (QS. al-Baqarah : 124)
Seperti yang kita lihat, Nabi Ibrahim as diuji oleh Allah SWT selama masa keNabiannya dan ketika ia berhasil melalui ujian itu (ujian dalam hidupnya, meninggalkan istrinya, mengorbankan putranya), ia dianugrahi oleh Allah SWT kedudukan imamah. Hal ini menunjukkan bahwa kedudukan imamah lebih tinggi daripada keNabian yang diberikan kepadanya setelah ia memperoleh kemampuan lebih lainnya. Derajat selalu diberikan dengan tingkatan yang terus meningkat. Kita tidak pernah melihat ada seseorang yang mendapatkan gelar doktoral lalu mendapatkan gelar diploma. Dalam aturan Allah SWT, tiada kekacauan seperti itu. Derajat pertama Nabi Ibrahim as adalah menjadi hamba Allah (abdi), kemudian menjadi Nabi, lalu menjadi Rasul, setelah itu menjadi Khalil, dan terakhir menjadi Imam. Ayat di atas, membuktikan bahwa Allah SWT mengangkat Imam dan pengangkatan Imam bukan urusan manusia.
Berikut ini penafsiran dari kaum Sunni, Yusuf Ali, mengenai ayat di atas (QS. al-Baqarah : 124), berkomentar,
“Kalimat yang secara literal berarti ‘kata-kata’, digunakan dalam makna yang mistis, makna yang hanya diketahui Allah tujuan, kehendak dan ketentuannya. Ayat ini merupakan ringkasan dari ayat-ayat berikutnya. Nabi Ibrahim melaksanakan semua perintah Allah, yaitu mensucikan rumah Allah (baitullah), membangun tempat perlindungan yang suci, Kabah, dan menyerahkan segala kehendaknya kepada kehendak Allah. Ia dijanjikan diberi jabatan sebagai pemimpin bagi dunia. Ia bermohon untuk anak keturunannya dan doanya dikabulkan dengan kekecualian bahwa apabila keturunannya menyimpang dari ajaran Allah, Allah berjanji tidak akan meridhai orang yang terbukti salah.”
Seperti yang kita lihat, Quran dengan jelas membenarkan pandangan Syi’ah dalam hal ini. Tetapi, karena Nabi Ibrahim, Muhammad dan beberapa Nabi lainnya adalah juga Imam, keyakinan ini (Imamah lebih tinggi daripada keNabian) tidak meruntuhkan derajat mereka. 

Imam berarti seseorang yang diangkat oleh Allah SWT sebagai pemimpin atau penunjuk (lihat al-Anbiya:73; as-Sajdah:24). Orang-orang harus taat dan mengikuti mereka. Para Rasul adalah pembawa berita dan imam adalah pemberi petunjuk (QS. al-Ra’d:7). Imam adalah cahaya petunjuk (QS. al-An’am: 97). 


Muhammad SAW adalah seorang Nabi, Rasul dan seorang Imam. Setelah ia wafat, pintu keNabian dan keRasulan tertutup selamanya. Tetapi pintu imamah (kepemimpinan) masih terbuka karena ia memiliki penerus (khalifah, wakil), artinya seseorang yang melanjutkan kedudukan orang sebelumnya. Jelaslah bahwa pelanjut Nabi Muhammad SAW tidak memiliki derajat keNabian atau keRasulan. Kedudukan mereka hanyalah sebagai imam (pemimpin). Dan jumlah imam ini ada dua belas sebagaimana yang dinyatakan Nabi Muhammad sendiri. Perhatikan juga bahwa Quran dengan jelas menyatakan bahwa imam dan khalifah ditunjuk oleh Allah SWT dan penunjikannya bukan urusan manusia! Untuk membuktikan penunjikan imam oleh Allah SWT. Lihatlah ayat Quran berikut! Shad:20 tentang Nabi Daud, al-Baqarah:124 tentang Nabi Ibrahim, al-Baqarah:30 tentang Nabi Adam, al-A~raf 142, Thaha:29- 36 dan al-Furqan:35 tentang Nabi Harun.

Seorang Wahabi mengartikan bahwa kaum Syi’ah bukanlah orang Islam karena mereka meyakini bahwa imamah lebih tinggi daripada keRasulan, tetapi ia tidak memberikan bukti dari Quran atau hadis yang sahih yang menyatakan sebaliknya. Tetapi kami telah memberikan bukti dari Quran dan dengan demikian penilaian kami lebih baik daripada penilaian mereka, apakah anda seorang Islam atau bukan.
Mengenai malaikat, seluruh umat Islam sepakat bahwa tingkatan Nabi lebih tinggi daripada para malaikat. Quran menyatakan bahwa semua malaikat bersujud di hadapan Nabi Adam. Hal ini cukup untuk membuktikan bahwa derajat Nabi lebih tinggi daripada derajat malaikat. Dan berdasarkan kesimpulan sebelumnya bahwa kedudukan imamah lebih tinggi daripada keNabian, maka derajat imam lebih tinggi daripada derajat malaikat juga.

Bukti dari Koleksi Hadis Sahih Sunni

Kaum Syi’ah lebih jauh meyakini bahwa dua belas Imam dari Keluarga Nabi Muhammad SAW memiliki derajat yang lebih tinggi daripada semua Rasul kecuali Nabi Muhammad SAW. dengan kata lain, kedudukan pelanjut bahtera Nabi Muhammad SAW lebih tinggi dari pada penerus semua Nabi sebelumnya. Perhatikanlah bahwa penerus Nabi – Nabi sebelumnya adalah para Nabi ! Berikut ini referensi dari Hadis Sunni bahwa Imam Ali bin Abi Thalib memiliki kebajikan yang sangat tinggi dari pada para Nabi sebelumnya.

Nabi Muhammad SAW berkata :

jikalau engkau ingin melihat keteguhan dalam diri Nabi Nuh, ilmu pengetahuan Nabi Adam, kemurahan Nabi Ibrahim, kecerdasan Nabi Musa dan ketaatan Nabi Isa, lihatlah Ali bin Abi Thalib !”(1)

Cahaya Nabi Muhammad SAW dan Ali mendahului penciptaan Nabi Adam


Salman Farisi meriwayatkan bahwa Rasulullah berkata,


“Aku dan Ali berasal dari cahaya yang sama di dalam genggaman Allah empat belas ribu tahun sebelum Ia menciptakan Adam. Ketika Allah menciptakan Adam, Ia membagi cahaya itu menjadi dua bagian, satunya adalah cahayaku dan satunya adalah cahaya Ali”(2)
Hal ini dengan jelas menunjukkan bahwa derajat Nabi Muhammad SAW dan Imam Ali lebih tinggi daripada seluruh manusia yang diciptakan Allah SWT.

Tidak ada orang yang dapat melintasi Jembatan Shirath kecuali dengan izin Ali

Anas bin Malik meriwayatkan,


“Ketika kematian Abu Bakar semakin dekat, Abu Bakar berkata bahwa ia mendengar Rasulullah berkata, ‘Sebuah rintangan menghadang di jembatan Sirath all-Mustaqim. Tidak ada seorangpun yang dapat melintasinya kecuali dengan izin Alibin Abi Thalib.’ Aku mendengar Rasulullah berkata, ‘Aku adalah penghulu para Nabi dan Ali adalah penghulu para Pemimpin.”(3)

Imam Ali meriwayatkan,

“Nabi Muhammad SAW berkata bahwa ketika Allah SWT mengumpulkan orang-orang yang pertama dan yang terakhir masuk surga, sebuah jalan dibentangkan menjembatani neraka. Tidak seorangpun dapat melintasinya kecuali memiliki bukti yang kuat berpemimpin (wilayah) kepada Ali bin Abi Thalib.”(4)

Ali adalah orang yang menjadi pemisah antara orang-orang yang masuk surga dan
orang-orang yang masuk neraka Nabi Muhammad SAW berkata kepada Ali, 


“Engkau adalah orang yang memisahkan orang-orang yang akan masuk ke surga dan orang-orang yang akan masuk ke neraka pada Hari Kiamat. Engkau akan berkata kepada neraka, “Orang ini untukku dan yang itu untukmu.”  Ali berkata, “Aku adalah pemisah orang-orang yang masuk neraka.” 6

Nabi Muhammad SAW pernah berkata Ali,

“Engkau adalah pemisah orang-orang yang masuk neraka.”7

Dan berikut ini sebuah catatan dari Syafi’i, salah satu imam fikih dari mazhab
Sunni :
Ali akan memeriksa umat manusia dan memisahkan apakah mereka masuk surga atau masuk neraka. Ali, orang yang wngat meyakini Nabi Muhammad, adalah pemimpin golongan manusia dan golongan jin. Sekiranya para pengikut Ali adalah Rafidhi sesungguhnya aku termasuk ke dalam golongan itu. Pada saat itu Ali merobek simbol Kabah dan menginjaknya di mana Allah telah meletakkan lengannya pada ‘malam Mikraj’. Sesungguhnya pada ke dua mata Ali terpancar cahaya Allah.

Umar bin Khatab berkata mengenai kebajikan Imam Ali,

“Apabila seluruh planet dan tujuh lapis langit diletakkan pada sebuah sisi timbangan dan keimanan Ali pada sisi yang lain, sisi timbangan Ali akan memberati.”8


Ali adalah orang yang paling baik setelah Nabi Muhammad SAW


Jabir meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW berkata, “Ali adalah umat yang paling baik setelahku, dan barangsiapa yang meragukannya, ia adalah orang kafir.”9

Abu Dzar yang mengutip dari Abdullah yang mengutip dari Ali bahwa bahwa


Nabi Muhammad berkata, “Barangsiapa yang tidak mengtakan bahwa Ali adalah
orang terbaik dalam umatku, ia adalah orang kafir.”10

Barida juga meriwayatkan, 

“Nabi Muhammad SAW berkata kepada Fathimah,  ‘Aku menikahkanmu kepada orang yang paling terbaik dalam umatku, orang yang  paling berpengetahuan, sabar dan orang pertama yang masuk Islam di antara mereka.”11

Imam Mahdi


Sekarang mari kita lihat periode kedatangan Imam Mahdi, Imam terakhir dari keluarga Nabi Muhammad SAW, di masa yang akan datang.  Kaum Sunni telah meriwayatkan dalam kitab-kitab sahih mereka bahwa ketika  Imam Mahdi datang, Nabi Isa as akan turun dan shalat di belakangnya. Hal ini
menunjukkan bahwa derajat Imam Mahdi lebih tinggi daripada Nabi Isa yang merupakan salah satu Rasul utama Allah.

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim bahwa Jabir Abdillah Anshari berkata bahwa ia mendengar Nabi Muhammad bersabda :

“Sekelompok dari umatku akan berperang demi kebenaran hingga Hari Kiamat mendekat. Saat itu Nabi Isa putra Maryam akan turun dan pemimpin saat itu akan memintanya untuk memimpin shalat tetapi Nabi  Isa menolak. Ia mengatakan, “Sesun~guhnya, Allah telah mengangkat di antara kalian pemimpin bagi yang lainnya dan Ia mencurahkan anugrah kepada mereka.”12

Ibnu Abu Shaibah, seorang ahli hadis Sunni lainnya, guru dari Bukhari dan
Muslim telah meriwayatkan banyak hadis mengenai Imam Mahdi. Ia juga meriwayatkan bahwa Imam umat Islam yang akan memimpin shalat Nabi Isa adalah Imam Mahdi.

Jalaluddin Suyuthi menyebutkan,

“Aku telah mendengar beberapa umat yang menyangkal kebenaran yang telah disampaikan tentang Nabi Isa yang ketika datang, ia akan shalat di belakang Imam Mahdi. Mereka mengatakan bahwa Nabi Isa lebih tinggi kedudukannya untuk memimpin shalat daripada seseorang yang bukan Nabi. Ini merupakan pendapat yang aneh karena persoalan tentang Nabi Isa yang akan diimami oleh Imam Mahdi telah dibuktikan secara kuat melalui oleh banyak hadis sahih dari Rasulullah yang paling benar.”13

Selanjutnya Suyuthi meriwayatkan hadis mengenai hal ini. Hafizh dan Ibnu Hajar Asqalani menyebutkan bahwa Imam Mahdi berasal dari umat ini, dan Nabi Isa akan turun dan shalat di belakangnya.14

Hadis ini pun disebutkan oleh ulama lain. Ibnu Hajar Haitsami menuliskan,


“Ahlulbait bagaikan cahaya-cahaya yang menunjuki kami pada jalan yang benar dan apabila cahaya itu disembunyikan kita akan berhadapan dengan tanda kekuasaan Allah yang dijanjikan (Hari Kiamat). Ini akan terjadi ketika Imam Mahdi datang, seperti yang disebutkan dalam hadis dan Nabi Isa akan shalat di belakangnya, Dajjal akan dihancurkan dan tanda-tanda kebesaran Allah akan bermunculan susul menyusul.” 15

Semuanya dengan jelas menunjukkan bahwa derajat Imam mahdi as lebih tinggi
daripada Nabi Isa as yang merupakan salah satu dari lima Rasul utama Allah.

Apakah Para Imam Mendapafkan Ilham?


Tidak ada keraguan ketika ayat ini turun, Hari ini telah aku se mpurnakan agamamu dan telah ak u cuku pkan karuniaku kepada ka lian, dan ak u ridhai Isl am menjadi agamamu” ( QS. al-Maidah : 3 ), agama telah sempurna. Allah SWT menurunkan Quran juga syariat hanya kepada Nabi Muhammad SAW, dan tidak ada wahyu seperti itu yang diturunkan kepada Imam Ali bin Abi Thalib. Apabila Imam Ali diberi ilham, hal itu tidak ada sangkut pautnya dengan firman Allah SWT: Ilham yang diberikan kepadanya merupakan hal yang telah dan akan terjadi. Allah SWT memiliki banyak cara untuk memberi tahu sesuatu kepada hamba-hamba-Nya. Salah satunya adalah dengan wahyu (wahy). Cara lain adalah dengan membisiki (memberi ilham). Dengan cara memberi ilham ini, Allah memasukkan ilmu pengetahuan ke dalam hati hamba-Nya. Hal ini diyakini oleh semua mazhab Islam. Tetapi apakah anda berpikir bahwa wahyu hanya diperuntukkan bagi Nabi dan Rasul? Apabila demikian anda telah bertentangan dengan Quran karena ibunda Nabi Musa as bukanlah seorang Nabi ataupun Rasul. Bukankah demikian? Allah SWT mewahyukan untuk meletakkan putranya pada sebuah keranjang di sungai ~agar tentara-tentara Fir’aun membawanya ke istana.

Dan Kami memberi wahyu kepada ibunda Musa. Susuilah (bayi itu) tetapi apabila engkau telah merasa takut, lemparkanlah ia ke sungai dan janganlah engkau takut bahwa engkau akan berduka cita karena Kami akan menjaganya untukmu dan Kami akan mengangkatnya menjadi salah satu utusan Kami (QS. al-Qashash : 7).
Perhatikanlah bahwa secara langsung Quran menggunakan kata “wahy” (wahyu).

Di sini, Yusuf Ali telah menerjemahkan kata’wahy dengan artian ilham. Tetapi Quran menggunakan kata ‘wahy’ (wahyu), dan bukan bisikan (ilham). Wahyu dan ilham merupakan dua hal yang berbeda. Bagaimanapun, satu hal yang jelas adalah bahwa wahyu yang diturunkan kepada selain Nabi atau Rasul tidak memiliki sangkut paut dengan syariat. Wahyu tersebut tidak berkaitan dengan ajaran agama dan lain-lain. Wahyu tersebut lebih merupakan perintah untuk memilih ketika sedang dalam kebingungan dan atau memberitahukan apa yang telah dan akan terjadi.

Kita dapat menyimpulkan bahwa wahyu memiliki berbagai jenis. Hanya wahyu yang diberikan kepada Nabi dan Rasul saja yang berhubungan dengan ajaran agama dan praktik-praktiknya yang baru, sedangkan wahyu lainnya tidak.

Catatan: Quran juga menggunakan kata wahy kepada selain manusia, tetapi hal itu bukan pembahasan kami. Dalam buku ini kami menitikberatkan pada jenis wahyu lain untuk manusia saja.

Apakah Para Imam bertemu dengan Malaikat? Menurut Quran, berkomunikasi dengan malaikat bukan sesuatu yang khusus bagi
para Nabi dan Rasul. Allah SWT menyebutkan dalam Quran bahwa Maryam (ibunda Nabi Isa) berkomunikasi dengan malaikat, dan malaikat berbicara dengan Nabi Isa.

Lihatlah Quran mengenai percakapan ibunda Maryam dan para malaikat!

 

Ingatlah ketika para malaikat berkata,
“Wahai Maryam, sesungguhnya Allah telah mengge mbirakan kamu dengan Kali mat daripada-Nya, namanya al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia ini dan di akhir at dan ter masuk or ang-orang ya ng didekatkan (kepada Allah).“(QS. Ali Imran : 45)
Ada sebuah percakapan yang lengkap antara Maryam dan malaikat. Lihatlah beberapa ayat sebelum dan sesudahnya dari ayat di atas! Maryam as bukanlah seorang Nabi atau Rasul, tetapi ia berkomunikasi dengan malaikat. Namun demikian, komunikasi antara Maryam dengan malaikat tidak berkaitan dengan syariat. Percakapannya tidak ada sangkut paut dengan praktik agama. Tetapi lebih berupa berita tentang apa yang akan terjadi, dan perintah yang harus dilakukan.

Surah yang berhubungan dengan ayat ini adalah Hud ayat 69-73 di mana malaikat berkomunikasi dengan istri Nabi Ibrahim dan membawakannya berita gembira bahwa ia akan mengandung Nabi Ishak as.

Bahkan kaum Suruai menyatakan bahwa Imran bin Husain Khuza’i (52/672) yang merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW, dikunjungi oleh malaikat, menyapa mereka, berjabatan tangan dan memandang mereka. Ia hanya ditinggalkan oleh mereka sesaat setelah para malaikat kembali hingga wafatnya.’16

Tidak ada keraguan bahwa Imam Ali adalah muhaddats yang artinya ‘seseorang
yang telah diajak bicara’. Tidak hanya Imam Ali, tetapi semua Imam dua belas, demikian juga dengan Sayidah Fathimah.

Berdasarkan hadis Sunni yang sahih, diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan Aisyah bahwa Nabi Muhammad bersabda,

“Di antara umat sebelum kamu terdapat orang-orang yang menjadi muhaddatsun (orang yang dapat mengetahui sesuatu akan terjadi dengan benar, seperti orang-orang yang telah diberi ilham oleh kekuatan ilahi), dan apabila ada orang-orang seperti itu di antara pengikutku, mereka adalah...”17

Dalam Shahih Bukhari, diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Nabi
Muhammad bersabda,
“Di antara bangsa-bangsa sebelumnya ada orang-orang yang sering diberi ilham (meskipun mereka bukanlah para Nabi). Dan apabila terdapat orang-orang seperti itu, di antara pengikutku, mereka adalah...”18

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Nabi Muhammad bersabda,

“Di antara bangsa Israil yang hidup sebelum kalian, ada orang-orang yang sering mendapat ilham melalui  petunjuk meskipun mereka bukan para Nabi, dan apabila terdapat orang-orang seperti  itu, di antara pengikutku, mereka adalah...”
Selain itu diriwayatkan, Nabi Muhammad bersabda,
“Sesungguhnya diantara bangsa-bangsa yang hidup sebelum kalian terdapat orang-orang muhaddatsun dan apabila ada salah seorang di antara pengikutku, ia adalah...”
Nabi Muhammad juga bersabda, 
“Sesungguhnya diantara Bani Israil sebelum kalian terdapat orang-orang yang diajak berbicara (rijalun yukallam un) dan mereka bukan Rasul dan apabila ada salah satu di antara umatku, ia adalah...”19

Kesimpulannya adalah bahwa eksistensi muhaddatsun (orang-orang yang diajak
berkomunikasi) merupakan suatu hal yang dibenarkan oleh semua umat Islam dan bahwa hal ini bukan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran dasar Islam. Catatan kaum Sunni di atas juga membenarkan bahwa muhaddatsun bukanlah para Nabi dan mereka tidak membawa syariat (aturan ilahi) dari Allah SWT kepada umat.

Berikut ini definisi Nabi, Rasul, dan imam. Nabi adalah orang yang menerima syariat. Syariat di sini berkaitan dengan keyakinan (aqaid) atau dengan aktivitas praktis (ibadah). Syariat meliputi urusan kehidupan Nabi dan juga umatnya, atau keduanya. Ini adalah definisi dasar dari Nabi, meskipun Nabi juga mungkin diberitahu hal lain.

Turunnya syariat ini dapat langsung atau melalui perantara seperti malaikat. Rasul adalah Nabi yang menerima syariat yang berkaitan dengan dirinya dan orang lain selain dirinya. Sedangkan imam adalah orang yang ditunjuk oleh Allah SWT sebagai pemimpin dan sebagai penunjuk (QS. al-Anbiya : 73) yang kepadanya ketaatan harus kita berikan dan orang-orang harus mengikutinya. Rasul adalah pembawa peringatan dan imam adalah penunjuk jalan (QS. al-Ra’d : 7) atau cahaya petunjuk (QS. al-Maidah : 97). Menarik untuk diperhatikan bahwa ketika ayat tentang sempurnanya agama Islam diturunkan, banyak ulama tafsir Sunni membenarkan bahwa ayat Hari ini telah aku sempumakan agamamu dan telah aku cukupkan karuniak u kepada kalian, dan aku ridhoi Islam menjadi agamamu (QS. al-Maidah: 3), turun di Ghadir Khum ketika Nabi Muhammad mengumumkan siapa penerus dirinya.20

Ayat di atas dengan jelas menunjukkan bahwa agama Islam tidak akan sempurna jika tidak ada pernyataan tentang kepemimpinan Imam Ali, dan kesempurnaan agama ditentukan oleh pernyataan Nabi tentang penerus setelahnya.

Perbedaan Antara Nabi dan Rasul


Di dalam bahasa Arab tidak ada kata terpisah untuk istilah Nabi dan Rasul.

Perbedaan antara Nabi dan Rasul adalah bahwa derajat keNabian lebih rendah dari derajat keRasulan. Seorang Nabi adalah orang yang menerima hukum syariat, yang dapat berisi mengenai keyakinan (‘aqaid), kehidupan Nabi itu sendiri, umatnya, atau keduanya.

Definisi ini merupakan definisi dasar dari keNabian, meskipun Nabi juga diberitahu tentang hal lainnya. Turunnya hukum syariat dapat secara langsung, atau melalui perantara seperti malaikat. Sedangkan Rasul adalah Nabi yang menerima hukum ilahi yang berkaitan dengan dirinya sendiri dan orang-orang selain dirinya. Dengan demikian, setiap Rasul (manusia) adalah Nabi tetapi tidak semua Nabi adalah Rasul.

Selain itu, setiap Nabi yang disebutkan Quran bersama umatnya adalah Rasul. Maka ketika Quran menyatakan bahwa Muhammad adalah Nabi terakhir (QS. al-Ahzab:40), dengan merujuk pada definisi di atas, ia juga adalah Rasul terakhir.

Perhatikanlah bahwa kata ‘manusia’ dalam definisi Rasul sangat penting karena Quran juga menggunakan istilah’Rasul’ untuk malaikat yang memberi perintah atas kehendak Allah SWT.

Allah memilih Rasul-Rasul dari kelompok malaikat dan dari kelompok
manusia, karena Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. al-Hajj : 75)

Telah datang kepada Nabi Ibrahim Rasul-Rasul kami dengan membawa berita gembira. Mereka berkata, “Selamat!” Ibrahim menjawab, “Selamat. “ Segera ia membawa daging sapi panggang. (QS. Hud : 69)

Ketika Rasul-rasul kami menemui Luth, ia merasa bersedih karena
mereka dan merasa tidak berdaya (untuk melindungi) mereka. Ia berkata, “Ini adalah hari yang sukar.” (QS. Hud : 77)

(Malaikat itu) berkata, “Wahai Luth, kami adalah utusan dari Tuhanmu...” (QS.
Hud : 81)

Lihat juga al-A’raf:37, al-Hijr:57 dan 61, Maryam:l9, al-Ankabut:31, 33.

Bagaimanapun, seorang Nabi adalah manusia. Tidak ada malaikat yang dapat disebut Nabi. Dengan demikian setiap Rasul adalah Nabi tetapi setiap Nabi seorang Rasul.

Jumlah Rasul lebih sedikit dari jumlah Nabi dan setiap Rasul menerima sebuah kitab, tetapi hanya beberapa Nabi yang menerima kitab. Selain itu, karena ia harus meyakinkan umatnya untuk menerima agama baru dengan amalan-amalan yang baru, tugas seorang Rasul lebih berat daripada tugas seorang Nabi. Inilah kenyataan utama bahwa kebutuhan, pikiran dan kemampuan umat berubah, dan menerima sebuah agama baru bukan suatu tugas yang mudah. Di sinilah, perintah-perintah agama baru seorang Nabi adalah untuk dirinya sendiri (kecuali jika ia seorang Rasul). Tentunya seorang Nabi mengajak umat menuju Allah SWT, tetapi ia tidak membuat amalan-amalan baru bagi umat itu. Intinya, jika seorang Nabi bukan seorang Rasul, umat yang ia ajak untuk memtju Allah SWT akan diperintah untuk mengikuti kebiasaan dan amalan Rasul sebelumnya.

Di antara para Rasul, ada lima orang yang lebih tinggi daripada Rasul lainnya. Sebagaimana yang mungkin anda ketahui, perbedaan satu-satunya antara kelima orang Rasul ini dari Rasul-Rasul lainnya adalah bahwa mereka ditunjuk secara menyeluruh (untuk seluruh umat manusia pada zamannya), sedang Rasul-Rasul lainnya ditunjuk untuk suatu daerah tertentu (hanya satu wilayah atau suatu tempat). Kata ‘alamin dan atau jami’an telah digunakan Quran untuk Nabi Isa dalam mendukung gagasan ini. Suatu kali seorang Bahai menyatakan bahwa para Rasul (yang datang sebelum imam terakhir) hanyalah lima Rasul yang memiliki kitab. Tetapi sisanya adalah para Nabi, Hal ini tidak benar Karena Quran menyatakan bahwa Nabi Daud memiliki kitab Zabur tetapi ia tidak termasuk kedalam lima rasul besar. Ia adalah seorang rasul karena membawa kita bagi umatnya.

Imam atau Muhaddats


Imam artinya seorang manusia yang ditunjuk Allah SWT sebagai pemimpin atau penunjuk jalan (lihat al-Anbiya:73 dan as-Sajdah:24) di mana semua orang harus taat kepadanya dan mengikutinya. Para Rasul adalah pembawa peringatan dan para imam adalah pemberi petunjuk (QS. al-Ra’d : 7). Para imam adalah cahaya petunjuk (QS. al-An’am : 97).

Imam tidak menerima wahyu ilahi yang berisi syariat (hukum ilahi). Ia tidak menerima perintah apapun yang berhubungan dengan amalanamalan agama yang baru dan lain-lain. Tetapi, ia diberitahu tentang peristiwa masa lalu dan masa yang akan datang.

Perbedaan lain antara Rasul, Nabi, dan imam (muhaddats) adalah dalam cara mereka berkomunikasi dengan malaikat. Perbedaan ini dijelaskan dalam Ushul al-Kafi, bab al-Hujjah ketika menerangkan Surah al-Hajj ayat 52.

Rasul melihat dan mendengar malaikat dalam kondisi terjaga dan tertidur. Nabi mendengar dan melihat malaikat hanya ketika ia dalam kondisi tertidur, namun ia tidak melihatnya dalam keadaan terjaga meskipun dapat mendengar perkataannya. Imam (muhaddits) adalah orang yang mendengar malaikat dalam keadaan terjaga tetapi ia tidak dapat melihatnya dalam keadaan terjaga atau tertidur.

Pada bagian sebelumnya kami mengutip ayat Quran bahwa ibunda Maryam as berkomunikasi dengan malaikat. Apabila menurut kitab Shahih Bukhari, Fathimah as adalah penghulu perempuan di dunia ini dan di akhirat, lalu mengapa ia tidak dapat berkomunikasi dengan malaikat?

Dalam Shahih Bukhari hadis 4.819, diriwayatkan oleh Aisyah, Nabi Muhammad berkata kepada Fathimah (yang menangis ketika ayahnya meninggal dunia),

“‘Tidakkah kau gembira bahwa engkau dan penghulu dari semua perempuan di surga dan penghulu seluruh perempuan yang beriman?”
Selain itu, Ibnu Abbas meriwayatkan, Rasulullah bersabda,
“Empat perempuan penghulu alam semesta adalah, Maryam, Asiah (istri Fir’aun), Khadijah, dan Fathimah. Dan perempuan paling utama di dunia adalah Fathimah.”21

Bagi orang-orang yang meyakini Shahih Bukhari, kami akan mengutip kitab ini
sekali lagi yang menegaskan bahwa Sayidah Fathimah berkomunikasi dengan malaikat Jibril.

Dalam Shahih Bukhari hadis 5.739, diriwayatkan oleh Anas,

“Ketika sakit Nabi semakin memburuk, ia tidak sadarkan diri. Melihat keadaan itu Fathimah berkata, ‘Betapa menderitanya ayahku!’ Ia berkata, Ayahmu tidak akan menderita setelah hari ini.’ Ketika Nabi meninggal, Fathimah berkata, ‘Wahai Ayah! Yang telah menjawab seruan Tuhan yang telah mengundangnya! Wahai Ayah, yang tempat tinggalnya adalah surga! Wahai Ayah! Kami menyampaikan berita ini (kematianmu) kepada Jibril.’ Ketika Nabi dikuburkan, Fathimah berkata, ‘Wahai Anas! Tegakah engkau melemparkan tanah kepada Rasulullah?’

Tidak hanya itu saja, Kaum Sunni pun meriwayatkan bahwa Imam Hasan bin Ali
berkata bahwa malaikat Jibril sering mengunjungi Ahlulbait. Diriwayatkan bahwa Imam Hasan bin Ali menyatakan ucapan di bawah ini dalam sebuah khutbah yang ia sampaikan ketika Imam Ali wafat,
‘Aku berasal dari keluarga Ahlulbait. Keluarga yang malaikat Jibril sering mendatangi kami dan pergi ke surga setelah menemui kami.”22
Ketika Imam Hasan menggunakan istilah `kami’, artinya bahwa bukan hanya Nabi Muhammad SAW saja yang sering didatangi malaikat Jibril. Tentu saja malaikat Jibril tidak menyampaikan sesuatu dari Quran kepada Imam Hasan. Tetapi hadis Sunni di atas menunjukkan bahwa mereka dapat berkomunikasi dengan malaikat Jibril.


Beberapa Komentar


Seorang Wahabi menyebutkan bahwa kaum Syi’ah yakin para imam mengetahui kapan mereka akan meninggal, dan mereka tidak meninggal kecuali atas kehendak mereka. Kami menjawab: Hal inipun dianugerahkan kepada para Rasul. Oleh karena itu, kami tidak memahami mengapa para imam tidak memilikinya. Berikut ini dua hadis di dalam Shahih Bukhari yang menegaskan pernyataan itu bagi Nabi Musa.

Dalam Shahih B ukhari hadis 2.423 dan 4.619, diriwayatkan oleh Abu Hurairah,

“Malaikat maut diutus kepada Nabi Musa dan ketika ia menemuinya, Nabi Musa menamparnya dengan sangat keras sekali hingga salah satu matanya terlepas. Malaikat maut kembali kepada Tuhannya dan berkata, ‘Engkau mengutusku kepada seorang hamba yang tidak ingin mati.’ Allah membetulkan kembali matanya dan berkata, ‘Kembalilah dan katakan kepadanya (Musa) untuk meletakkan tangannya di punggung sapi, karena ia akan hidup dalam beberapa ratus tahun sejumlah bulu sapi yang menempel di tangannya.’Kemudian malaikat maut menemuinya dan berkata hal yang sama kepadanya. Kemudian Musa bertanya, ‘Wahai Tuhanku, apa yang akan terjadi kemudian?” Allah berkata, ‘Kematian akan menjemputmu.’ Ia berkata, `Biarkanlah kematian menjemputku sekarang.’ Ia meminta kepada-Nya agar dia dibawa untuk berada di dekat tanah Suci sejauh lemparan sebuah batu. Rasulullah berkata, ‘Sekiranya aku berada di sana, aku akan menunjukkan kepadamu pusara Musa yang dekat dengan lembah pasir berwarna merah.”23

Menurut hadis di atas, Nabi Musa menyatakan tidak ingin wafat, lalu Musa
diberitahu oleh Allah SWT tentang kapan ia akan wafat (dalam waktu sejumlah bulu). Kemudian Musa meminta kepada Allah SWT untuk mengubah kematiannya menjadi saat itu juga.

Muatan ejekan di dalam hadis di atas oleh Bukhari patut dipertanyakan bagi kami. Tetapi, karena anda menganggapnya sebagai hadis sahih, maka anda harus sepakat bahwa para Rasul tahu tentang kapan mereka akan wafat. Mengapa para imam tidak mengetahuinya?

Di sini kami harus menyebutkan bahwa menurut ajaran Islam, Allah SWT tidak memberikan kekuasaan-Nya kepada para Nabi atau imam. Kekuasaan para Rasul dan imam tidak tergantung kepada Allah SWT. Kekuasaan ini diberikan kepada mereka dari Allah SWT dan juga dikendalikan oleh-Nya. Jika mereka tidak menaati Allah SWT, kekuasaan itu akan segera diambil. Maka, jika Nabi Musa atau para Nabi dan imam wafat atas kehendak mereka sendiri, kita harus ingat bahwa orang-orang suci itu tidak menghendaki apa yang tidak Allah SWT kehendaki. Jadi keinginan mereka tentang kapan mereka akan wafat benar-benar sesuai dengan apa yang Allah SWT kehendaki, kerena mereka benar-benar taat kepada Allah SWT.

Sebenarnya, apa yang kami katakan di sini agak bertolak berlakang dengan riwayat Abu Hurairah di atas. Tetapi karena anda meyakini Bukhari, anda berbicara lebih jauh dari pada pernyataan yang ditulis di dalam al-Kafi. Dengan kata lain, hadis Bukhari di atas menyatakan bahwa seorang Rasul dapat menolak atau mengubah perintah Allah SWT bahkan menampar malaikat maut. (Semoga Allah melindungi kita dari ucapanucapan keji seperti itu.)

Sang Wahabi berkata, “Dalam hadis Syi’ah disebutkan bahwa seluruh muka bumi ini milik para imam.”

Kami menjawab, "Allah SWT, pemilik Keagungan dan Kemuliaan berfirman, Dunia ini milik Allah. Ia me mberikannya sebagai warisan kepada orang-orang yang la kehendaki dan akhir yang baik adal ah bagi hamba-hamba yang be riman (QS. al-A’raf : 128).”

Sang Wahabi bertanya, “Tidak ada yang menyangkal bahwa Imam Ali bin Abi Thalib adalah salah satu orang yang paling mengetahui para sahabat. Meskipun kita mengakui bahwa Imam Ali adalah orang yang paling mengetahui, lalu bagaimana? Apakah artinya bahwa tidak ada orang lain yang mengetahui?”

Kami menjawab, “Tidak. Artinya bahwa orang lain memiliki Pengetahuan yang lebih sedikit. Hal ini menyiratkan arti bahwa orang-orang yang memilih orang-orang yang lebih rendah pengetahuannya untuk memimpin umat bagi kepentingan mereka sendiri, bertanggung jawab atas ketidak beruntungan seluruh umat Islam di sepanjang sejarah. Syi’ah menyatakan bahwa pemimpin harus memiliki seluruh kualitas seperti berpengetahuan, berani, adil, bijaksana, saleh, mencintai Allah SWT dan lain-lain untuk memberi keyakinan atas kesejahteraan umat Islam.”

Sang Wahabi bertanya, “Apakah Quran benar-benar menyatakan bahwa imamah lebih tinggi daripada keNabian dan keRasulan?”

Kami menjawab, “Ada perbedaan tingkat di dalam imamah. Kepemimpinan Rasul lebih tinggi daripada pemimpin-pemimpin lain. Tentunya, imam mesjid sama sekali tidak lebih tinggi daripada seorang Nabi atau Rasul.” Sang Wahabi bertanya kembali, `Anda tidak menjawab pertanyaan saya. Saya tidak sedang membicarakan tingkatan kepemimpinan. Tolong baca kembali pertanyaan itu. Mengenai imam masjid, hal ini menunjukkan bahwa anda tidak membaca definisi yang saya berikan untuk kata Imam di bahasan saya sebelumnya. Saya menyatakan, `Imam artinya orang yang ditunjuk Allah sebagai pemimpin atau penunjuk jalan yang kepadanya orang-orang harus taat dan mengikutinya.’ Apakah definisi di atas sesuai untuk definisi `imam mesjid’? Allah SWT berfirman bahwa Nabi Muhammad adalah seorang pembawa peringatan, dan setiap umat (generasi) memiliki pemimpinnya. (QS. al-Ra’d : 7). Jelaslah bahwa tidak ada Rasul lain setelah Nabi Muhammad. Dengan demikian para pemimpin bagi setiap generasi bukanlah Rasul.

Kami menjawab, “Karena orang-orang yang paling berimanpun hanya dapat menjadi orang beriman jika ia meyakini semua Rasul, lalu bagaimana ia dapat lebih baik daripada salah satu Rasul yang harus ia yakini agar disebut orang beriman? Nabi Muhammad meyakini semua Rasul sebelum dirinya, tetapi kedudukannya lebih tinggi dari semua Rasul. Apakah anda sepakat?”

Quran dan Para Imam Maksum


Di sini, kami akan sedikit perlihatkan sejumlah ayat Quran yang terkait dengan para imam yang hak dan maksum.

Sesungguhnya Allah berkehendak untuk menghilangkan dosa dari kalian, Ahlulbait, dan menyucikan kalian dengan sesuci-sucinya. (QS. al-Ahzab : 33)

Katakanlah, “Aku tidak me minta kepada kali an suat u upah pun atas seruanku melainkan kecintaan kepada keltaargaku.“ Dan barang siapa yang mengerjakan kebaikan, akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. asy-Syura : 23)

Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang telah diberikan kepada kamu), maka katakanl ah (kepadanya), “Marilah kita memanggil anak -anak kami dan anak-anak kamu, perempuan-perempuan kami dan perempuan-perempuan kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dari kita minta supaya laknat Allah ditim pakan kepada orang-orang yang dusta. (QS. Ali Imran : 61)
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai berai! (QS. Ali Imran : 103)
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS. at-Taubah : 119)
Sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. (QS. al-An’am : 153)
Wahai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan taatilah Rasul dari orang-orang yang diberi otoritas tinggi (ulil amri) di antara kalian. (QS. an-Nisa : 59)
Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas petunjuk baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang yang beriman, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan ia ke dalam jahanam dan jahanam itu seburuk-buruknya tempat kembali. (QS. an-Nisa : 115)
(Wahai Nabi ) Sesungguhnya engkau hanyalah seorang pemheri peringatan; dan bagi tiap-tiap kaum ada seorang pemberi petunjuk. (QS. al-Ra’d : 7)
Bimbinglah kami di jalan yang lurus. Jalan orang–orang yang Engkau telah engkau berikan rahmat… ( Qs al-fatihan : 6-7)

Orang-orang yang dianugrahi oleh Allah yakni para nabi, para Shuhada, Para Syahid dan orang–orang yang sholeh. (Qs an-Nisa : 69)
Mereka (yakni para nabi dan Imam) tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka berbuat (dalam segala sesuatu) karena perintah-Nya. Dia (Allah) mengetahui apa yanga da di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka dan mer eka orang - orang suci itu) itu tidaklah memberi syafaat kecuali pada orang yang Allah Ridhai, dan mereka itu takut dan hormat kepada (keagungan)-Nya. (Qs. Al-Anbiya : 27 : 28 )
Sesungguhnya wali kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang–orang yang beriman, yang mendirikan sholat, dan menunaikan zakat, seraya mereka itu rukuk dalam shalat ( Qs al-Maidah : 55 )
Dan sesungguhnya aku maha pengam pun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal yang mendirikan sholat, dan menunaikan zakat, seraya mereka saleh, dan kemudian mengikuti petunjuk. ( Qs Thaha : 82 )
Wahai orang – orang yang beriman, ma sukilah kedamaian secara beriman, beramal saleh, dan kemudian mengikuti petunjuk. ( Qs al-Baqarah : 208 )
Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan. (Qs at-Takatsur : 8 )
Wahai (engkau) rasul, sampaikanlah apa yang tidak di turunkan kepadamu oleh Tuhanmu, apabila engkau tidak berbuat demikian artinya engkau tidak berbuat demikian, artinya engkau belum menyampaikan risalah-Nya sama sekali. Dan Allah akan menjagamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang–orang yang kafir. ( Qs. Al-Maisah : 67 )
Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (QS. al-Maidah : 67)
Pada hari ini telah Kusempumakan untukmu agamamu, telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Kuridhai Islam itra jadi agama bagimu. (QS. al-Maidah : 3)
Seorang penanya telah bertanya tentang kedatangan azab tak terelakkan kepada orang-orang kafir, yang tidak seorang pun bisa menolaknya. (QS. al-Ma’arij : 1-2)
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka, dan mengambil kesaksian mereka terhadap jiwa mereka. (Dia bertanya), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Benar, kami menyaksikan.“ (QS. al-A’raf : 172)
Ataukah mereka dengki kepada orang-orang itu karena karunia yang Allah telah limpahkan kepada mereka? (QS. an-Nisa : 54)
Tidak seorang pun menyentuh (kedal aman makna al-Quran) kecuali berlomba–lomba yang disucikan. (Qs. Al-Waqi’ah : 79)
Tidak seorang pun yang mengetahui takwilnya melainkan Allag dan orang–orang yang disucikan ( Qs. Ali Imran : 7)
Bertanyalah kepada ahli zikir (orang-orang yang berilmu) jika kalian tidak mengetahui! (QS. al-Anbiya : 7; al-Nahl : 43)

Ganjaran Mencintai Ahlulbait
Kami menemukan hadis menakjubkan berikut dalam salah satu kitab Tafsir al-Kabir karya Fakhrurrazi, seorang ulama Sunni terkemuka dengan berbagai kepakaran yang dimilikinya seperti tafsir, fikih, dan teologi. Hadis ini pun dapat dijumpai dalam karya tafsir Quran Sunni lainnya, Tafsir alKasysyaf susunan Zamakhsyari juga Tafsir ats-Tsa’labi.

Sebelum masuk ke teks tersebut lebih jauh, penting kiranya untuk menunjikan bahwa suatu cinta sejati senantiasa disertai dengan ketaatan.

Seseorang yang tergila-gila pada orang lain, mengerjakan segala sesuatu untuk memuaskan sang kekasih, dan tidak membiarkan dirinya sendiri membangkang terhadap orang yang ia cintai. Itulah sebabnya’cinta hakiki’ adalah wajib dan mencukupi. Suatu cinta sejati mempengaruhi setiap perbuatan manusia dan mengarahkannya pada tujuan tertentu selaras dengan orang yang ia cintai. Jadi siapa saja yang mengklaim mencintai Nabi dan Ahlulbaitnya namun tetap mendurhakai mereka, sesungguhnya ia seorang pendusta.

Setelah menyampaikan teks hadis kami akan kutip ayat Quran yang terkait. Kami juga akan menyajikan sejumlah hadis lain yang diriwayatkan oleh golongan Sunni yang nyata-nyata menyebutkan nama orang-orang yang kecintaan terhadap mereka adalah wajib.

Rasulullah SAW bersabda,

“Barangsiapa yang mati di atas kecintaan kepada keluarga Muhammad, maka ia seorang syahid.”

Barangsiapa yang mati di atas kecintaan kepada keluarga Muhammad, ia diampuni (dosanya).

Barangsiapa yang mati di atas kecintaan kepada keluarga Muhammad, mati dalam keadaan bertobat.

Sesungguhnya ia yang mati di atas kecintaan kepada keluarga Muhammad, maka ia mati sebagai seorang mukmin dengan keimanan yang sempurna.

Barangsiapa yang mati di atas kecintaan kepada keluarga Muhammad, malaikat maut menyampaikan kepadanya berita gembira tentang surga, dan demikian juga dua malaikat yang akan bertanya kepadanya
(Munkar dan Nakir).

Dan sesungguhnya barangsiapa yang mati di atas kecintaan kepada keluarga Muhammad, akan diarak ke surga laksana mempelai perempuan yang dibawa ke rumah suaminya.

Ingatlah, barangsiapa yang mati di atas kecintaan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, baginya akan ada dua pintu surga dalam kuburnya menuju surga.

Sesungguhnya barangsiapa yang mati di atas kecintaan kepada keluarga Muhammad, Allah akan menjadikan kuburnya sebagai tempat suci yang dikunjungi para malaikat pemurah.

Dan sesungguhnya ia yang mati di atas kecintaan kepada keluarga Muhammad, ia mati di atas Sunnah.

Jangan ragu, barangsiapa yang mati di atas kebencian kepada keluarga Muhammad, akan sampai di hari pengadilan sementara di dahinya tertera ia berputus asa dari rahmat Allah.

Ingatlah, barangsiapa yang mati di atas kebencian kepada keluarga Muhammad, ia matinya dalam keadaan kafir.

Barangsiapa yang mati di atas kebencian kepada keluarga Muhammad, tidak akan pernah menciup wanginya surga.24
Fakhrurrazi dan yang lainnya menyatakan bahwa hadis di atas merupakan tafsir ayat Quran berikut dimana Allah berfirman kepada Rasul-Nya,
(Wahai Nabi) Katakanlah (kepada manusia), “Aku tidak meminta kepada kalian suatu upah apapun (sebagai balasan atas keNabianku) kecuali kecintaan kepada keluargaku!” Dan barangsiapa mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu (sebagai balasan atas itu). (QS. asy-Syura : 23)
Hal ini telah diriwayatkan secara luas oleh para mufasir Sunni. Misalnya, Ibnu Abbas meriwayatkan,
“Ketika ayat di atas (asy-Syura: 23) diturunkan, para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah kerabat dekat yang kepadanya Allah mewajibkan kita untuk mencintai mereka?” Nabi SAW menjawab, ‘Ali, Fathimah, dan kedua putra mereka (Hasan dan Husain).” Beliau mengulang-ulang jawaban tersebut sebanyak tiga kali.25
Kemudian Nabi SAW melanjutkan, “Sesungguhnya Allah telah menyerahkan upahku (dari keNabian) untuk mencintai Ahlulbaitku, dan aku akan mempertanyakan kepada kalian tentang hal itu pada hari pengadilan.26
Dalam hadis lain, kita baca Rasulullah SAW bersabda,
“Aku nasehati kalian agar bersikap baik kepada Ahlulbaitku karena sesungguhnya aku akan mempersoalkan kalian tentang mereka pada hari pengadilan, dan barangsiapa yang aku berselisih dengannya, ia akan masuk neraka.”
Beliau juga bersabda,
“Barangsiapa yang menghormatiku dengan menghormati Ahlulbaitku, ia telah mengambil perjanjian dari Allah (untuk memasuki surga).”27
Selain itu, Khatib dan Ibnu Hajar meriwayatkan berdasarkan otoritas Anas bin Malik yang berkata bahwa Nabi SAW bersabda,
“Julukan buku (shahifah) orang beriman adalah kecintaan kepada Ali bin Abi Thalib.”28
Dalam hadis di atas,’Kitab Orang Beriman’ merujuk pada cara seorang beriman menyikapi masalah-masalah, yakni kehidupannya sehari-hari dan catatan hariannya.

Berdasarkan tafsir Quran ayat Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa cinta (QS. Maryam : 96), Hafizh Salafi menulis,

“Muhammad bin Hanafiyah berkata, ‘Bukanlah seorang mukmin kecuali dalam hatinya ada perasaan cinta pada Ali dan keluarganya.”‘ 
Dalam hal ini, Baihaqi, Abu Syaikh, dan Dailami melaporkan bahwa Rasulullah SAW berkata, 
“Seorang hamba Allah bukanlah seorang mukmin (hakiki) kecuali jika ia lebih mencintaiku daripada jiwanya sendiri serta mencintai keturunanku lebih daripada jiwanya dan keluarganya sendiri.”29

Tirmidzi dan Ahmad meriwayatkan,

“Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesiapa yang mencintaiku dan mencintai kedua anak ini (Hasan dan Husain), dan mencintai ayah-ibu mereka, maka ia akan bersamaku kelak di surga.”30

Diriwayatkan juga bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Sesungguhnya orang yang beruntung, hanya orang-orang yang beruntung, dan yang beruntung sejati adalah ia yang mencintai Ali dalam masa hidupnya di dunia dan di akhirat.”3
Para ulama Sunni juga meriwayatkan bahwa Imam Hasan bin Ali as menyampaikan sebuah wacana pada kesyahidan Imam Ali;
“Akulah anggota Ahlulbait yang Allah telah mewajibkan kecintaan kepada mereka menjadi wajib bagi setiap Muslim ketika Dia menurunkan kepada Nabi-Nya SAW, (Wahai Nabi) katakanlah (kepada manusia), “Aku tidak meminta kepada kalian suatu upah apapun (sebagai balasan atas keNabianku) kecuali kecintaan kepada keluargakra. Dan bararrgsiapa me ugerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada ke baikannya itu (sebaqai balasan atas itu)!” (QS. asySyura : 23). Dengan demikian, carilah amal saleh melalui kecintaan kepada kami, Ahlulbait!32

Lebih lanjut, diceritakan bahwa Ibnu Abbas berkata,


“Amal saleh dalam ayat Dan barangsiapa m engerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu (sebagai balasan atas itu). (QS. asy-Syura: 23), adalah kecintaan kepada keluarga (al) Muhammad SAW.33

Para ahli hadis Sunni juga menuturkan bahwa selepas kesyahidan Imam
Husain ketika keluarganya dijadikan tawanan dan dibawa ke Damaskus, seorang lelaki di kota (yang bersama orang lain melihat rombongan tawanan di kota itu) berkata kepada Zainal Abidin bin Husain, “Segala puji bagi Allah yang
menghancurkan dan menjadikan kalian tidak berdaya, dan memotong akar pemberontakan.” Saat itu juga Zainal Abidin berkata, “Tidakkah engkau membaca ayat Katakanlah (kepada manusia), “Aku tidak meminta kepada kalian suatu upah apapun (sebagai balasan atas keNabi anku) kecuali kecintaan kepada keluargaku?” Lelaki itu bertanya, `Apakah kalian yang dimaksud itu?” Beliau menjawab, “Ya, benar.”34

Berlawanan dengan semua hadis yang disebutkan di atas, Yusuf Ali
mempunyai suatu tafsiran yang sangat ganjil untuk Surah asy-Syura ayat 23. Ia menulis,
“Tidak ada bentuk ganjaran nyata yang Nabi Allah minta karena menyampaikan kabar gembira dari Allah. Namun setidaknya ia mempunyai hak untuk meminta kerabat dan sanak saudaranya agar jangan menganiayanya dan meletakkan segala jenis rintangan di jalannya, sebagaimana yang suku Quraisy lakukan terhadap Nabi suci.”
Implikasi dari ulasan Yusuf Ali itu adalah, bahwa melalui ayat di atas, Nabi tengah meminta kerabatnya untuk tidak menganiayanya dan mereka semestinya mencintai kerabatnya, yakni Nabi. Nyatanya, hadis-hadis Nabi yang disebutkan di atas sekaitan dengan turunnya Surah asy-Syura ayat 23, bertolak belakang dengan ulasan Yusuf Ali. Kami heran, apakah kita harus mengambil pendapat Nabi ataukah pendapat Yusuf Ali? Menarik untuk dicatat bahwa hadis-hadis yang dicantumkan di atas diriwayatkan oleh para ahli hadis Sunni tersohor melalui sejumlah perawi. Yusuf Ali bukanlah seorang ahli hadis dan kaum Sunni pun tidak menganggap karya tafsirnya sebagai karya tafsir yang otoritatif.

Selain itu kita bisa membuktikan secara logis bahwa tafsir Yusuf Ali tidaklah benar. ‘Keluarga dekat itu’ adalah keluarga Nabi sendiri. Karena Nabi Muhammad hanyalah satu orang. Apabila Allah SWT hendak berkata, “Cintailah Nabi karena ia adalah keluargamu!” Dia bisa saja berkata demikian, dan Dia tidak akan menggunakan’keluarga dekat’. Lagi pula, dari ayat itu jelaslah Allah SWT tidak berbicara kepada non-Muslim, karena ayat itu berbicara seputar upahnya sebagai balasan atas dakwah keNabiannya. Jadi, orang-orang kafir tersebut (di antara keluarganya ataupun yang lainnya) yang tidak mengenalinya sebagai seorang Nabi, bukan sasaran pembicaraan. Upah jenis apakah yang bisa Nabi harapkan dari seorang kafir (di antara keluarganya atau yang lainnya) yang tidak mengenalinya sebagai seorang Nabi?

Demikianlah, mereka itu adalah kaum Muslim yang dituju oleh ayat tersebut. Kini jika memang Yusuf Ali memaksudkan bahwa ayat itu dialamatkan kepada orang-orang Muslim yang notaben adalah keluarganya, maka kami ingin bertanya, “Siapakah keluarga dekat Nabi yang seorang Muslim namun mencoba menganiaya Nabi?”

Jawabannya, tidak ada sama sekali. Jika anda berpikir sebaliknya, silakan ajikan bukti anda dari sejarah kehidupan Nabi SAW. Oleh sebab itu, tafsir Yusuf Ali tidaklah selaras dengan hadis-hadis Sunni yang disebutkan di atas dalam hal ini, tidak pula selaras dengan logika.

Kami tidak bermaksud mendiskusikan semua kesalahan yang terdapat dalam karya-karya Yusuf Ali. Kendati demikian, adalah berguna untuk menyebutkan terjemahannya atas sebuah ayat Quran sekaitan dengan topik barusan, kemudian membandingkannya dengan terjemahan lainnya. Ayat ini sangat serupa dengan ayat Quran yang disebutkan di Was (QS. asy-Syura : 23). Dalam Surah Saba ayat 47 dikatakan

(Wahai Nabi ) Katakanlah (ke pada manusia), “Apapun yang aku minta kepadamu sebagai upah sebagai balasan atas keNabianku ) adalah untuk (kepentingan)mu (manusia).”
Berikut ini terjemahan dari Pickthall,
Katakanlah, “Apapun upah yang aku terima kepadamu adalah untukmu.”
Sekarang, mari kita lihat terjemahan Yusuf Ali!
Katakanlah, “Tidak ada suatu upah pun yang aku minta dari kalian. Ini (semua) dalam kepentingan kalian.”
Siapapun bisa melihat bahwa terjemahan Yusuf Ali mengajikan pengertian yang sangat berlawanan dengan yang lain. Dalam terjemahan ayat di atas, Yusuf Ali menyatakan bahwa Nabi tidak meminta upah apapun. Karena itu, Yusuf Ali menentang terjemahannya sendiri dalam ayat lain yang disebutkan sebelumnya (QS. asy-Syura : 23) di mana ia menyatakan bahwa Nabi benar-benar meminta upah itu. Yusuf Ali :
Katakaralah, “Tiada suatu rapah pun yang aku mi nta kepadamu untuk ini kecuali kecintaan kepada keluarga dekat.” (QS. asy-Syura : 23)
Tak pelak lagi bahwa pahala atau upah Nabi berada di sisi Allah SWT. Akan tetapi, dengan perintah Allah SWT di atas, Nabi benar-benar meminta manusia untuk mencintai keluarganya sebagai upahnya. Permintaan mrscbut sesungguhnya demi keuntungan manusia sendiri sebagaimana trrungkap pada surah Saba ayat 47. Ayat-ayat Quran sesungguhnya, saling menjelaskan satu sama lain. Yang lebih mengherankan, ada ayat ketiga dengan lafaz lain yang mengimplikasikan bahwa manfaat atau keuntungan yang manusia peroleh dengan memenuhi permintaan Nabi (yakni kecintaan dan ketaatan kepada Ahlulbait) adalah bahwa mereka akan dibimbing menuju jalan (sabil) Allah.
Katakanlah, “Aku tidak memi nta kepada kalian sedikitpun upah dalam menyampaikan risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan (sabil) kepada jalannya.” (QS. al-Furqan : 57)

Terjemahan Pickthall:

Katakanlah, “Aku tidak meminta kepada kalian sedikitpun atas hal ini kecua li orang – orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhannya (Qs al-Furqan : 57 )
Letakkanlah surah ini di samping asy-Syma:23 dan Saba:47 memberikan bukti pada fakta bahwa setiap anggota Ahlulbait adalah jalan lurus (sabil) kepada Allah, dan jalan menuju keridhaan-Nya. Jalan lurus Allah SWT tidak lebih dari satu, sekalipun ia termanifestasi dalam suatu rangkaian para imam yang ditunjuk Tuhan. Karena itu, setiap pemimpin atau imam ini adalah jalan unik Allah SWT di zaman mereka masing-masing, dan melalui mereka manusia bisa beroleh perlindungan terhadap perselisihan-perselisihan dalam masalah-masalah agama. Sesungguhnya, Rastrlullah SAW membenarkan kesimpulan di atas dari ayat yang terakhir. Ibnu Sa’d dan Ibnu Hajar meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“Aku dan Ahlulbaitku adalah pohon di surga yang cabang-cabangnya menjulur ke dunia ini. Jadi barang siapa yang menghendaki, ambillah jalan menuju Tuhanny a (mengambil cabang dan mencapai batang di surga)!”34

Bagian yang dicetak miring di atas dalam hadis N~bi SAW merupakan ayat
Quran yang disebutkan di atas (QS. al-Furqan : 57). Cinta sejati kepada Ahlulbait sesungguhnya akan mewajibkan mengikuti jalan lurus mereka yang menjamin kesejahteraan manusia di dunia ini juga surga di akhirat kelak.

Bagaimana Cara Bershalawat kepada Nabi Muhammad?


Ketika bershalawat kepada Nabi Muhammad, sebagian mengucapkan,


“Allahumma shalli ala Muhammad (SAW) ,” sebagian lagi
mengucapkan, “Allahumma shalli ala Muhammad wa ali Muhammad,” sebagian lagi yang lebih pemurah mengucapkan, “Allahumma shalli ala Muhammad wa alihi wa azwajihi wa shahbihi ajma’in.”

Kini mari kita lihat bagaimana Nabi sendiri mengajari kita cara bersalawat
kepadanya!

Rasulullah SAW berkata, “Janganlah kalian bershalawat kepadaku dengan buntung!” Para sahabat bertanya, “Apakah shalawat buntung itu?” Nabi SAW menjawab, “Yakni mengucapkan Allahumma shalli ala muhammad.” Mereka bertanya,’Apa yang harus kami ucapkan?” Nabi SAW menjawab, “Ucapkanlah Allahumma shalli ala Muhammad wa ahlibaitihi.” Dalam ucapan lain beliau menjawab, “Ucapkanlah Allahumma shalli ala Muham mad wa ali Muhammad kama shallaita ala Ibrahim ma ali Ibrahim. Innaka hamidun majid!”35

Perkataan Nabi ini berhubungan dengan ayat Quran yang diturunkan
berkaitan dengan keluarga Ibrahim as:
Mereka (para malaikat) berkata, “Apakah kamu nurasa heran tentang ketetapan Allah? (It u adalah) Rahnr at Allah dan keberkatan-Nya dicurahkan atas kamu hai Ahlulb ait! Sesungguhnya Dia Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” (QS. Hud : 73)

Selain itu, Ibnu Hajar juga menyebutkan bahwa sebagian mufasir Sunni telah
meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat Quran yang berbunyi, “Kesejahterann dilimpahkan atas keluarga Yasin (QS. ash-Shaffat : 130),” mengacu pada keluarga Muhammad.36

Dari hadis yang dinukil sebelumnya, siapapun bisa melihat bahwa Rasulullah
SAW menyebutkan namanya dan Ahlulbaitnya secara berbarengan, dan membenci bila hanya menyebutkan namanya saja. Secara khusus ia memerintahkan agar para pengikutnya memasukkan kuluarganya dalam semua perkumpulan (majelis) mereka dengan Nabi Muhammad. Hal ini karena hanya orang-orang itu yang Quran membenarkan kesucian kesempurnaan mereka (kalimat terakhir dalam Surah al-Ahzab ayat 33) yang pantas menerima shalawat. Mari kita lihat lebih banyak lagi hadis. Kali ini dari Shahih Bukhari. Diriwayatkan dari Abu Said Khudri:
Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, (kami tahu) shalawat ini (kepadamu) tapi bagaimana cara kami memohon kepada Allah untukmu?” Beliau menjawab, “Ucapkanlah Ya Allah, sampaikanlah shalawat-Mu kepada Muhammad, hamba-Mu dan Rasul-Mu, sebagaimana Engkau sarn paikan shalnzuat-Mu kepada keluarga Ibrahim. Dan sampaikanlah berkah-Mu kepada Muharrunad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau sampaikan berkah-Mu kepada keluarga Ibrahim!”37
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hazim dan Darawardi: Yazid melaporkan (hal yang sama dengan kata-kata berikut),
“... dan sampaikan berkah-Mu kepada Muhamm ad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau sampaiakn berkah-Mu kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim.”38
Diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Abi Laila:
Ka’b bin Ujrah bersua denganku dan berkata, “Maukah engkau aku beri hadiah? Suatu ketika Nabi SAW datang kepada kami dan kami berkata, “Wahai Rasulullah, kami tahu bagaimana cara memberi salam kepadamu, tapi bagaimana cara menyampaikan shalawat kepadamu?” Beliau menjawab, “Katakanlah, ‘Ya Allah, sampaikan shalawat-Mu kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau kirimkan shalawat-Mu kepada keluarga Ibrahim. Ya Allah! Sampaikan berkah-Mu kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau kirim berkah-Mu kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahamulia!’40


Abu Mas’ud Badri meriwayatkan,


“(Suatu saat) kami tengah duduk – duduk bersama Sa’d bin Ubadah ketika Nabi SAW datang kepada kami. Basyir bin Sa d bertanya kepada Nabi SAW, “Wahai Rasulullah, kami telah diperintahkan oleh Allah untuk menyampaikan rahmat kepadamu dengan mengucapkan shalawat, lantas bagaimana cara kami melakukan hal ini?” Nabi SAW terdiam beberapa saat, sehingga kami berharap bahwa Basyar bin Sa’d tidak menanyakan lagi kepada Nabi SAW. Setelah beberapa saat Nabi SAW mengatakan hal ini, “Ya Allah, sampaikanlah shalawat-Mu kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagairnana Engkau sampaikan shalawatMu kepada Ibrahim dan berkatilah Muhammad dan keturunan Muhammad sebagaimana Engkau berkati keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” Selanjutnya, Nabi SAW berkata, “Apapun salam telah engkau ketahui.”41

Meskipun hadis-hadis di atas membenarkan bahwa Nabi SAW memerintahkan
manusia untuk menyampaikan shalawat kepadanya dan keluarganya, hal ini tidak bisa dianggap sebagai pengagungan diri. Sebaliknya ia merupakan perintah dari Allah SWT untuk melakukannya. Ia berperan sebagai pengajaran Sunnah kepada manusia. Hadis terakhir malah memperlihatkan bahwa Nabi tengah menunda untuk menyampaikan shalawat kepada dirinya sendiri pertama kali, tetapi karena ia perintah Allah SWT, ia menyampaikan pesan tersebut.

Hadis lain, ketika Rasulullah SAW sedang memperhatikan turunnya sebuah rahmat Allah, beliau berkata kepada Shafiyyah (salah seorang istri beliau), “Panggilkanlah untukku! Panggilkanlah untukku!” Shafiyyah berkata, “Panggil siapa, wahai Rasulullah?” Beliau berkata, “Panggillah untukku, Ahlulbaitku yakni Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain!” Lalu kami memanggil mereka dan mereka pun datang menemuinya. Lantas Nabi SAW membentangkan jubah luarnya kepada mereka, dan mengangkat kedua tangannya (menghadap langit) seraya berdoa,’Ya Allah! Inilah keluargaku (ali), maka rahmatilah Muhammad dan keluarga (al) Muhammad.” Dan Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Agung berfirman, Sesungguhnya Allah berkehendak untuk membersihkan kalian dari setiap jenis dosa, Wahai Ahl ulbait, dan menyucik an kalian dengan se suci-sucinya (kalimat terakhir dari Surah al-Ahzab ayat 33).”42
Demikian pula hal ini diriwayatkan dalam kesempatan lain, ketika Rasulullah SAW mengumpulkan Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain di bawah jubah luarnya, ia bersabda,
‘Ya Allah! Sesungguhnya mereka berasal dariku dan aku dari mereka. Maka tempatkanlah rahmat-Mu, kasih-Mu, dan keridhaanMu kepadaku dan mereka.’
Dan,
“Ya Allah! Inilah keluarga (ali) Muhammad. Maka tempatkanlah rahmat-Mu dan nikmat-Mu kepada keluarga Muhammad, karena sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Terpuji lagi Mah Agung!”43
Juga diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Apabila seseorang berdoa namun di dalam doanya ia tidak menyampaikan shalawat kepadaku dan keluargaku, niscaya doanva tidak akan diterima.”44

Sesungguhnya, menyampaikan shalawat pada keluarga Nabi sangatlah
penting sehingga ia telah dimasukkan dalam setiap shalawat pada Nabi SAW. Menyampaikan shalawat kepada keluarga Nabi merupakan sebuah tanda janji kesetiaan kepada mereka, dan membenarkan apa yang telah Allah SWT sendiri benarkan bagi mereka. Mereka sesungguhnya disucikan secara sempurna dan pantas menerima penghormatan.

Komentar lawan

Sebelumnya seorang saudara Sunni menyebutkan bahwa gelar `s-a-w’ dan ‘a-s’ digunakan untuk para Nabi, sementara ‘r-a’ digunakan untuk yang lainnya termasuk Ali.

Jawaban kami sebagai berikut. Singkatan ‘a-s’ adalah alaihis-salam yakni salam (kedamaian) atasnya. Kami tertarik untuk mengetahui dari manakah anda menyimpulkan bahwa kita tidakbisa menggunakan istilah ini bagi seoxang yang bukan Nabi? Bisakah anda kutipkan satu ayat Quran atau hadis sahih yang kita tidak bisa menggunakan frase ‘salam atasnya’ setelah namanya?

Saudara budiman, jika kita ingin mengikuti Sunnah Nabi, kito diperintahkan oleh hadis-hadis sahih di atas untuk menyampaikan salam tidak saja kepada Imam Ali as namun juga semua anggota Ahlulbait. Sekiranya Nabi SAW memerintahkan kepada kita untuk menyampaikan salam dan shalawat kepada keluarganya, lantas siapakah kita yang menetapkan aturan-aturan yang berlawanan dengan hal itu tapi mengklaim mengikuti Sunnah Nabi?

Frase’semoga Allah meridhainya’ (radhiyallahu anhu/ha) bisa disematkan kepada para sahabat, bukan kepada Nabi dan Ahlulbaitnya yang maksum, tidak berdosa, dan suci sesuci-sucinya.

Apakah Menjadi Anggota Sebuah Kelompok Terlarang dalam Islam?


Sebagian orang mengklaim, sambil mengutip ayat-ayat Quran yang menyebutkan sektarianisme, bahwa menjadi seorang anggota kelompok apapun tidak dibolehkan bagi kaum Muslim. Memang benar bahwa Islam menentang sektarianisme dan terpecah-pecah ke dalam berbagai sekte. Akan tetapi, anggota sebuah kelompok tidak dengan sendirinya adalah sektarian kecuali jika kelompok tersebut merupakan satu sekte itu sendiri.

Pendapat di atas berlawanan dengan Quran. Sesungguhnya Allah SWT kadang menggunakan istilah-istilah lain selain Muslim ketika merujuk pada suatu himpunan bagian dari kaum Muslim. Misalnya, dalam serangkaian ayat Quran, Allah SWT menyebutkan sekelompok Muslim dengan nama Irizbullah (partai Allah). Jika menjadi anggota partai apapun dikutuk dalam Quran dan seseorang harus menyebut dirinya sendiri Muslim dan hanya Muslim, maka Allah SWT niscaya menjadi sectarian dengan mempromosikan nama-Nya sendiri!

Kenyataannya, Allah SWT menggunakan suatu nama yang berbeda lantaran Dia ingin berbicara kepada sekelompok Muslim yong sangat bermoral. Sesungguhnya, setiap anggota Partai Allah adalah orang Muslim, namun tidak sebaliknya.

Sebagian Muslim adalah kaum Muslim yang lemah, sebagiannya lagi adalah hanya Islam dalam K’I’P dan karena itu orang-orang ini tidak termasuk pada Partai Allah. Tentang mereka Allah SWT berfirman, Sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung (QS. al-Mujadilah : 22).

Ini membuktikan bahwa tidak ada golongan dalam Islam yang dikutuk. Nyatanya, asal-usul kata Muslim kembali kepada Nabi Ibrahim as. Quran menyatakan bahwa Nabi Ibrahim as adalah seorang Muslim; Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri kepada Allah (Muslim), dan sekalikali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. (QS. Ali Imran : 67)

Juga dalam ayat lain Allah SWT nyatakan bahwasanya Nabi Ibrahim adalah orang`yang telah menamai kita sebagai Muslim; (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim! Dia yang tel ah menamaikan ka lian orang-or ang Musli m dari dulu dan dalam wahyu ini. (QS. al-Hajj : 78)

Dalam ayat lainnya, Nabi Ibrahim as menasehati anak-anaknya untuk tidak mati melainkan dalam keadaan (sebagai) Muslim; Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepad a anak-anak nya, demiki an juga Ya’qub. (Ibrahim berkata), “Hai anak -anakku, sesungguhnya Allah telah emilih agama ini untukmu, maka janga nlahlah kamu mati keeuali dalam memeluk agama Islami.” (QS. al-Baqarah : 132)

Sekarang, secara cukup mengejutkan, Quran membenarkan bahwa Nabi Ibrahim
adalah seorang Syi’ah (pengikut; anggota sebuah golongan) Nabi Nuh as: Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk dari Syi’ah (pengikut)nya (yakrai Nuh). (QS. ash-Shaffat : 83)

Orang boleh bertanya, mengapa Nabi Ibrahim as yang telah disebut Muslim dan juga mewasiatkan kepada orang lain menjadi Muslim sampai mati, telah dinamai Syi’ah? Hal ini tidak meninggalkan ruangan sedikit pun selain percaya bahwa masuknya ia sebagai Syi’ah Nuh as tidak bertolak belakang dengan dirinya sebagai Muslim. Kini kita mafhum bahwa menjadi anggota suatu golongan tidak berlawanan dengan identitas kita sebagai Muslim sepanjang pemimpin golongan itu ditunjuk oleh Allah SWT, atau setidaknya, scpanj.m}; pemimpin itu tidak memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan perintah Allah dan Nabi-Nya. Anggaplah terdapat suatu golongan dengan seorang pemimpin bernama Imam Fulan. Orang boleh menjadi anggota golongan ini selama ia tidak mendahulukan perintah Imam Fulan di atas perintah Nabi SAW.

Kapan suatu golongan menjadi suatu sekte dan dengan demikian dikutuk oleh Allah SWT? Jawabannya adalah ia menjadi suatu sekte apabila Imam Fulan menyatakan sesuatu yang bertolak belakang dengan perintahperintah atau Nabi-Nya, dan ketika kita sebagai para pengikutnya lebih menyukai mendahulukan perintah Imam Fulan ketimbang perintah Allah dan Nabi-Nya. Hal ini telah dikecam secara keras di dalam Quran, dan golongan tadi bukan lagi mazhab dalam Islam melainkan ia telah memecah belah para
pengikutnya dari agama Allah SWT dan telah mengubahnya menjadi satu sekte. Semoga Allah SWT menjaga kita dari golongangolongan semacam itu.


Istilah Syi’ab dalam Quran dan Hadis


Kata Syi’ah berarti para pengikut atau anggota golongan. Karena itu, istilah syi’ah sendiri tidaklah mempunyai pengertian negatif atau positif kecuali jika kita menetapkan pemimpin partai itu. Jika seseorang adalah seorang Syi’ah (pengikut) para hamba yang saleh, maka tidak ada sesuatu pun yang salah dengan menjadi Syi’ah, khususnya jika pemimpin golongan tersebut telah ditunjuk oleh Allah SWT. Di sisi lain, jika orang menjadi Syi’ah seorang penguasa atau pelaku kezaliman, ia akan bertemu dengan takdir pengikutnya. Sesungguhnya, Quran mengisyaratkan bahwa pada hari keputusan manusia akan datang berkelompok-kelompok, dan setiap kelompok memiliki pemimpinnya di depannya. Allah, Pemilik Keagungan dan Kekuasaan berfirman, (Ingatlah) s uatu hari (yang di har i itu) Kami panggil tia p umat dengan pe mimpin (imam)-nya. (QS. al-Isra : 71) Pada hari pengadilan, nasib ‘para pengikut’ setiap kelompok sangat tergantung pada nasib imamnya (asal saja bahwa mereka benar-benar mengikuti imam itu). Allah SWT menyatakan dalam Quran bahwa ada dua jenis imam. Sebagian imam adalah orang-orang yang mengajak manusia kepada api neraka. Mereka adalah para pemimpin tiran dari setiap zaman (seperti Fir’aun, dan lain-lain);

Dan Kami jadikan me reka imam-i mam ya ng menye ru manusia ke pada api neraka dan pada hari kiamat me reka tidak akan ditol ong. Dan Kami teruskan untuk melak nat merek a di dunia ini; dan pada hari kiamat mereka termasuk orang-orang yang dijauhk an (dari rahmat Allah). (QS. al-Qashash : 41-42)
Tentu saja, menjadi anggota golongan-golongan dari imam-imam seperti ini telah dikecam secara keras dalam Quran, dan para pengikut golongan tersebut akan menemui ajal dari para pemimpin mereka. Akan tetapi, Quran juga mengingatkan bahwa ada para imam yang ditunjuk oleh Allah SWT sebagai pembimbing bagi umat manusia:
Dan Kami jadikan di antnra mere ka imam-imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami karena mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami (QS. as-Sajdah : 24)
Sudah barang tentu, para pengikut sejati (Syi’ah) para imam ini akan mendapatkan keberuntungan hakiki pada hari kebangkitan. Dengan demikian, menjadi seorang Syi’ah tidak berarti apapun, kecuali jika kita tahu Syi’ah siapa. Allah SWT menyatakan dalam Quran bahwa sejumlah hamba-Nya yang saleh adalah Syi’ah hamba saleh lainnya. Contohnya adalah Nabi Ibrahim yang disebutkan dalam Quran secara khusus sebagai Syi’ah Nuh, Dan sesungguhnya Ibr ahim benar-benar ter masuk syi’ahnya (yakni Nuh). (QS. ash-Shaffat : 83)

Perhatikan, kata `syi’ah’ digunakan secara eksplisit, huruf demi huruf, dalam ayat di atas juga dalam ayat berikut. Dalam ayat lain, Quran membicarakan Syi’ah Musa lawan musuh-musuh Musa, Dan ia (Musa) nasuk ke kota (Memphis) ketika penduduk (kota itu) tengah lengah, maka ia tenruk an di dalamnya dua orang lelaki tengah berkelahi, yang seor ang dari syi’ah-nya (Bani Israil ) dan seorang (l agi) dari musuhnya (kaum Fir’aun). Maka orang yang dari syi’ahnya meminta pertolongau kepadanya untuk men galahkan orang y ang dari musuhnya (QS. al-Qashash : 15)

Dalam ayat Quran di atas, yang satu dinamai Syi’ah Musa as dan yang keduanya dinamai musuh Musa, dan orang-orang di masa itu bisa Syi’ah Musa atau musuh Musa as. Jadi Syi’ah adalah kata resmi yang digunakan oleh Allah dalam Quran-Nya untuk para Nabi tingkat tinggi-Nya berikut para pengikut mereka. Apakah anda ingin mengatakan Ibrahim sektarian? Lantas, bagaimana halnya dengan Nabi Musa dan Nabi Nuh?

Andaikata seseorang menyebut dirinya sebagai Syi’ah, itu bukanlah karena sektarianisme atau suatu bid’ah. Hal itu disebabkan Quran telah menggunakan frase tersebut bagi sejumlah hamba-hamba-Nya yang terbaik. Ayat di atas yang kami sebutkan dalam mendukung Syi’ah, telah menggunakan bentuk istilah tunggal ini (yakni sekelompok pengikut). Ini artinya ia mempunyai pengetahuan khusus seperti, seperti: Syi’ah Nuh as, Syi’ah Musa as.

Dalam sejarah Islam, Syi’ah telah dipakai secara khusus untuk para pengikut Ali. Orang pertama yang memakai istilah ini adalah Rasulullah sendiri.

Rasulullah SAW berkata kepada Ali, “Kabar gembira wahai Ali! Sesungguhnya engkau dan para sahabatmu dan Syi’ah (pengikut)mu akan berada di surga.”44

Dengan demikian Rasulullah SAW biasa mengatakan frase `Syi’ah Ali’. Frase ini
bukanlah sesuatu yang dibuat-buat belakangan! Nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa para pengikut sejati Imam Ali akan masuk surga dan ini merupakan kebahagiaan besar. Juga Jabir bin Abdillah Anshari meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Syi’ah Ali adalah orangmang yang benar-benar beruntung pada hari kebangkitan.”45

‘Hari kebangkitari bisa juga merujuk pada hari kemunculan Imam Mahdi as.
Namun dalam terma yang lebih umum. Ia artinya hari pengadilan. Juga diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“Wahai Ali! Pada hari pengadilan aku akan berpaling kepada Allah dan engkau akan berpaling kepadaku dan anak-anakmu akan berpaling kepadamu dan Syi’ah akan berpaling kepada mereka maka engkau akan saksikan ke mana mereka membawa kita (yakni ke surga).”46
Selain itu, diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW berkata,

“Wahai Ali! (Pada hari pengadilan) engkau dan syi’ah-mu akan datang menghadap Allah dalam keadaan ridha dan bahagia, dan akan datang kepada-Nya musuh-musuhmu dalam keadaan marah dan jengkel.”47
Suatu versi yang lebih lengkap dari hadis yang juga telah diriwayatkan oleh kaum Sunni adalah sebagai berikut. Ibnu Abbas meriwayatkan,“Ketika ayat sesungguhnya orang-ornng yang beriman dan beramal saleh, mereka itu adalah sebaik- baik makhluk (QS. al-Bayyinah : 7) diturunkan, Rasulullah SAW berkata kepada Ali, ‘Mereka itu adalah engkau dan Syi’ah-mu.’ Beliau melanjutkan, ‘Wahai Ali! (Pada hari pengadilan) engkau dan Syi’ah-mu akan datang menghadap Allah dalam keadaan ridha dan bahagia, sementara musuh-musuhmu akan menghadap dalam keadaan marah dengan kepala mereka yang terdongak!’ Ali bertanya, ‘Siapakah musuh-musuhku? Nabi SAW menjawab, ‘Dia yang memisahkan dirinya darimu dan mengutukmu. Dan kabar gembira bagi orang yang sampai pertama kali di bawah naungan al-Arasy pada hari kebangkitan.’ Ali bertanya, ‘Siapakah mereka, wahai Rasulullah?’
Beliau menjawab, ‘Syi’ahmu, wahai Ali, dan orang-orang yang mencintaimu.48

Kemudian Ibnu Hajar menuliskan sebuah ulasan ganjil atas hadis pertama,
dengan mengatakan;
“Syi’ah Ali adalah Ahlussunnah karena merekalah orang-orang yang mencintai Ahlulbait sebagaimana Allah dan Nabi-Nya perintahkan. Namun yang lainnya (yakni selain Sunni) adalah musuh-musuh Ahlulbait yang sebenarnya karena kecintaan di luar batas-batas hukum adalah permusuhan besar, dan itulah alasan bagi nasib mereka. Juga, musuh-musuh Ahlulbait adalah kaum Khawarij dan semacam mereka dari Suriah, bukan Muawiyah dan para sahabat lain karena mereka adalah muta~awwalun, dan bagi mereka adalah pahala yang baik, dan bagi Ali serta syi’ahnya adalah pahala yang baik!”49
Begitulah cara bagaimana para ulama Sunni mengatasi hadis-hadis keNabian sehubungan dengan ‘Syi’ah Ali’. Mereka mengatakan bahwa mereka adalah Syi’ah sejati. Mari kita simak satu hadis lagi dalam hal ini. Rasulullah SAW berkata kepada Ali,
“Empat orang pertama yang akan masuk surga adalah aku, engkau, Hasan, dan Husain, dan keturunan kita berada di belakang kita, dan istri-istri kita akan berada di belakang keturunan kita, dan syi’ah kita akan berada di sebelah kanan kita dan dalam persahabatan dengan kami.50
Dari kepingan-kepingan bukti di atas, kata ‘syi -ah’ digunakan oleh Allah SWT dalam Quran bagi para Nabi-Nya juga para pengikut mereka. Lebih jauh, Nabi-Nya yang mulia, Muhammad SAW, telah mengunakan kata ini berulang-ulang bagi para pengikut Imam Ali as. Kata ‘syi’ah’ digunakan di sini dalam arti khususnya, dan selain itu, tidak dalam bentuk jamaknya (golongan-golongan). Sebaliknya ayat-ayat dan riwayat-riwayat di atas merujuk pada suatu golongan khusus, yakni sebuah golongan tunggal. Apabila Syi’ah berarti sektarian, niscaya Allah SWT takkan menggunakannya bagi para Nabi-Nya peringkat tinggi. Demikian juga Nabi Muhammad SAW niscaya tidak akan memuji dan memuliakan mereka.

Akan tetapi ada sejumlah ayat dalam Quran yang menggunakan bentuk jamak dari Syi’ah yakni syi-ya’a yang berarti golongan-golongan/ kelompok-kelompok. Ini merupakan pengertian umum dari terma ini, dan bukan makna khusus dalam bentuk tunggal yang telah diberikan dalam contoh-contoh sebelumnya. Sudah tentu, hanya satu golongan tunggal yang diterima oleh Allah SWT dan sisanya secara keras dikecam karena mereka telah memisahkan diri dari golongan khusus tersebut. Maka jelaslah alasan mengapa Allah SWT mengecam golongan-golongan/partaipartai/sekte-sekte (bentuk majemuk) yang memisahkan diri dari golongan khusus tadi dalam sejumlah ayat Quran. Tidak mungkin ada dua golongan yang saleh (yang ide-idenya saling berlawanan) di saat yang sama, karena antara kedua pemimpin golongan itu sesungguhnya lebih baik dan lebih memenuhi syarat, dan karena itu, klaim-klaim dan motif-motif pemimpin lain menjadi pertanyaan.

Akan tetapi kami tidak menemukan istilah tepat dari Ahlussunnah wal Jamaah, ataupun Wahabiah, ataupun Salafiah di mana-mana dalam Quran suci atau hadis-hadis Nabi. Kami setuju bahwa kita harus mengikuti Sunnah Nabi, namun kami ingin menemukan asal-usul terma pasti tersebut di sini. Kami, Syi’ah, bangga mengikuti Sunnah Nabi. Akan tetapi, pertanyaannya adalah Sunnah mana yang asli dan mana yang bukan. Kata sunnah pada dirinya sendiri tidak berperan sebagai tujuan pengetahuan. Semua Muslimin terlepas dari keyakinan meteka mengklaim bahwa mereka mengikuti Sunnah Nabi SAW. Tema’Quran dan Ahlulbait’ di dalam buku ini telah memerinci hal ini.

Seyogianya ditekankan bahwa Rasulullah SAW tidak pemah bermaksud membagi-bagi kaum Muslim ke dalam aneka macam golongan. Nabi SAW memerintahkan semua orang untuk mengikuti Imam Ali as sebagai wakilnya selama masa hidupnya, dan sebagai khalifahnya sepeninggalnya. Nabi SAW menginginkan setiap orang melakukan hal itu. Nahasnya, mereka yang mengindahkannya hanya sedikit dan dikenal sebagai Syi’ah Ali. Mereka menjadi korban segala bentuk penindasan dan diskriminasi sejak wafatnya Muhammad SAW. Apabila setiap orang, atau katakanlah mayoritas Muslimin, menaati apa yang dikehendaki Nabi, niscaya tidak akan ada satu pun kelompok atau mazhab di dalam Islam. Allah SWT berfirman dalam Quran, Berpegang teguhlah kalian se muanya pada tali Allah, dan janganlah bereerai berai! (QS. Ali Imran : 103) Tali Allah yang kita tidak boleh berpisah darinya adalah Ahlulbait. Sesungguhnya, sejumlah ulama Sunni meriwayatkan di Imam Ja’far Shadiq as yang berkata, “Kamilah tali Allah itu yang kepadanya Allah berfirman, Berpegang teguhlah kalian semuarrya pada tali All ah, dan janganlah bercerai berai! (QS. Ali Imran : 103)”51

Karenanya, apabila Allah SWT mengutuk sektarianisme, Dia kutuk orang-
orang yang memisahkan atau berlepas diri dari tali-Nya, dan bukan orang-orang yang berpegang teguh kepadanya. Sebagian orang mengatakan bahwa tali Allah itu adalah Quran. Inipun memang benar. Namun dengan melihat hadis berikut yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah yang berkata bahwa Kasulullah SAW berkata ;
“Ali bersama Quran, dan Quran bersama Ali. Keduanya tidok,ikan pemah berpisah satu sama lain hingga keduanya kembali kepadaku di telaga (surga),”52
Maka kita dapat simpulkan bahwa Imam Ali adalah ‘al-Quran verbatim’. Yakni, Imam Ali adalah tali Allah yang kuat juga, karena mereka ((luran dan Ali) tidak bisa dipisahkan. Pada kenyataannya, tcrdapat banyak hadis dalam sumber-sumber Sunni yang otentik di mana Nabi SAW bersabda bahwa Quran dan Ahlulbaitnya tidak bisa dipisah-pisahkan. ‘Sekiranya kaum Muslim ingin tetap di jalan nan lurus, mereka harus bersiteguh pada keduanya. Oleh sebab itu, siapapun bisa menyimpulkan bahwa orang-orang yang berpisah dari Ahlulbait adalah sektarian yang terbagi-bagi dalam beberapa sekte dan dikecam oleh Allah dan Nabi-Nya, karena perpisahan mereka (dari Ahlulbait) Sesungguhnya, pendapat mayoritas bukanlah suatu kriteria yang baik untuk membedakan kebatilan dari kebenaran. Jika anda meliha Quran anda akan menyaksikan bahwa Quran mengutuk keras mayoritas manusia secara berkali-kali dengan mengatakan `kebanyakan tidak memahami’, ‘kebanyakan tidak menggunakan logika mereka’, ‘kebanyakan mengikuti prasangka mereka’. Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman, Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah yang munkar.. (QS. Ali Imran : 110)

Umat terbaik adalah juga Ahlulbait. Marilah kami ingatkan bahwa menurut Quran, `umat’ tidak berarti seluruh manusia. Bahkan ini jelas dari ayat di atas bahwa umat semacam itu dilahirkan untuk memberikan manfaat bagi manusia. Karena itu, umat bisa jadi hanya sekelompok manusia dan bukan scluruh manusia. Pada kenyataan, satu orang biasa sebagai satu umat. Kadang tindakan satu orang manusia lebih mulia/berharga ketimbang perbuatan segala manusia. Inilah yang berlaku bagi Manusia SAW, Imam Ali as, juga Nabi Ibrahim as, Quran menyatakan bahwa Ibrahim as adalah suatu umat, artinya perbuatannya lebih berharga ketimbang semua yang lain. Allah SWT berfirman, Sesungguhnya Ibrallim adalah seorang umat yang taat kepada Allah dan hani f dart ia sekali-kali bukanlah termasuk orang yang menyekutukan (Allah). (QS. al-Nahl : 120)

Dengan demikian, satu orang saja bisa saja sebuah umat dalam bahasa Quran. Tentang surah Ali Imran ayat 110, menarik untuk diketahui bahwa sejumlah ulama Sunni telah meriwayatkan dari Abu Ja’far (Imam Muhammad Baqir as) bahwa Abu Ja’far as berkata mengenai ayat Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk (manfaat) manusia...(QS. Ali Imran : 110), “(Mereka itu adalah) para anggota Ahlulbait Nabi!”

Allah SWT menyebutkan juga dalam Quran, Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kaliarr bersama orang-orang yang benar” (QS. at-Taubah: 119). Menurut sejumlah tafsir Sunni, ‘orang-orang yang benar’ adalah Imam Ali as .54

lni berarti bahwa orang-orang harus bertakwa kepada Allah SWT dan semestinya tidak memisahkan diri dari Imam Ali as pasca wafatnya Nabi SAW. Nahasnya ini tidak terjadi secara luas, dan karena itu, pecahan-pecahan yang malang mengikutinya.

Menyangkut kata ash-Shadiq -’orang-orang yang benar’- banyak riwayat Sunni yang di dalamnya Rasulullah SAW mengatakan,

“Orang-orang yang benar adalah tiga; Hazqil, seorang yang beriman dari keluarga Fir’aun (lihat Surah al-Mukmin ayat 28); Habib Najjar, seorang beriman dari keluarga Yasin (lihat Surah Yasin ayat 20), dan Ali bin Abi Thalib, seorang yang paling mulia di antara mereka (lihat Surah at-Taubah ayat 119).”55

Kesimpulannya, kami telah memperlihatkan dalam artikel ini bahwa terma
Syi’ah telah digunakan dalam Quran bagi para pengikut hambahamba Allah SWT yang agung, dan dalam hadis-hadis Nabi bagi para pengikut Imam Ali as. Siapa saja yang mengikuti pemimpin yang ditunjuk Tuhan seperti selamat dari perselisihan dalam agama. dan telah berpegang pada tali Allah yang kuat dan telah diberi kabar gembira mengenai surga.

Komentar Lawan


Seorang saudara Sunni menulis: sunni artinya orang yang mengikuti hadis-hadis (sunnah) Nabi, dan ini didukung oleh ayat Quran berikut:

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah than (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak mengingat Allah. (QS. al-Ahzab : 21)
Komentar kami sebagai berikut. Pertama, dalam ayat di atas samo sekali tidak adakata sunnah ataupunturunannya. Sebagaimana diutarakan sebelumnya, Allah SWT telah menggunakan terminologi ‘muslim’ dalam bentuk pastinya, huruf demi huruf, dalam Surah al-Hajj ayat 78. Allah Swl juga menggunakan kata ‘syi’ah’ lagi-lagi dalam bentuk tepat dalam Suroh ash-Shaffat ayat 83 bagi Nabi Ibrahim. Akan tetapi, Allah SWT tidak pemah memakai kata-kata seperti ‘Sunni’ atau seperti ‘Ahlussunnah’ bagi para pengikut Nabi SAW.

Kedua, andai kata anda mengatakan kita tidak mendapatkan terminologi tepat seperti itu, namun kita memahami bahwa Nabi adalah teladan kita, maka siapapun boleh mengatakan bahwa Quran membenarkan bahwasanya Nabi Ibrahim as adalah seorang teladan bagi kita juga, Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim...(QS. al-Mumtahanah : 4)

Perhatikan bahwa dalam ayat di atas, frase yang telah digunakan bagi Nabi Ibrahim as secara tepat telah digunakan dengan ayat yang dikutip sebelumnya bagi Nabi Muhammad SAW. Yakni memang benar bagi ayat berikut juga:

Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan par a pengikutnya) dan teladan (pola perilaku yang indah) yang baik bagimu, (yaitu) baqi orang yang mengharapkan Allah dan (keselamatan kepada) hari kematian dan barang siapa yang Berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji (QS. al-Mumtahnnah : 6)

Sekarang silahkan katakana kepada kami, apakah kita bisa disebut sebagai
seorang Sunni karena kita mengikuti tradisi – tradisi Ibrahim?
Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW mengikuti hadis Nabi Ibrahim As namun Muhammad SAW tidak pernah bias disebut Sunni, sebagai hasilnya. Demikian pula, Nabi Ibrahim as mengikuti tradisi-tradisi Nabi Nuh, namun ia tidak pemah bisa disebut seorang Sunni. Quran menyebutkan bahwa ia (Ibrahim) seorang Syi’ah Nuh.

Ketiga, kata sunrtah telah digunakan dalam Quran untuk merujuk pada ketetapan dan cara Allah SWT mengurus masalah-masalah dan aturan-aturan yang menguasai alam semesta (sunttatullah). Namun di sini kita tengah mendiskusikan kata ‘sunnah’ merujuk pada Nabi SAW, dan bukan aturan-aturan yang melingkupi alam semesta. Karena itu, kita tengah mencari istilah tersebut seperti Sunttaturasulillah.

Keempat, suatu kata bisa digunakan dalam dua cara, menurut definisi atau menurut label. Seluruh muslimin adalah Sunni menurut definisi, namun hanya sekelompok orang, yang terkenal dengan nama ini, adalah Sunni menurut penamaan.

Bagaimana mereka beroleh nama tersebut perlu diselidiki dengan cermat.
Juga, seluruh muslimin adalah ‘taat’ menurut definisi, namun tidak ada kelompok khusus di antara kaum muslim yang disebut ‘taat’. Hal ini memperlihatkan bahwa memiliki ciri tertentu menurut definisi tidak memaksa kita untuk menetapkan karakteristik seperti itu dalam nama kita. Sesungguhnya, dalam banyak kasus (tidak dalam semua kasus) nama hanyalah sekadar stereotip dan tidak memantulkan sifat hakiki dari pemegang nama itu. Kadang-kadang nama itu digunakan untuk menarik orang-orang pada versi spesifik dari sesuatu yang dijumpai dalam berbagai versi. Setiap versi diklaim sebagai versi asli oleh kelompok-kelompok yang berbeda. Karena itu, ini bukanlah suatu tindakan bijaksana secara umum untuk mengidentifikasi keaslian dari sesuatu melalui namanya.

Sesungguhnya, para pengikut Nabi diminta untuk mengikuti sunnahnya menurut definisi. Namun apakah mereka disebut Sunni ketika Nabi Muhammad SAW hidup? Atau bahkan beberapa tahun pasca kemangkatannya? Dalam madah lain, persoalan untuk dijawab adalah: “Kapan nama Ahlussunnah wal Jamaah muncul dalam sejarah Islam bagi sekelompok Muslim tertentu?

Fatwa al-Azhar tentang Syi ah

Berikut ini adalah fatwa dari salah seorang ulama besar Sunni, Syaikh Mahmud Syaltut sehubungan dengan Syi’ah. Patut diketahui bahwa beberapa dasawarasa silam, sekelompok ulama Sunni dan Syi’ah membentuk sebuah pusat di Azhar dengan nama Dar al-Taqrib al-Mazhahih al-Islnmiyyah (Pusat Pendekatan Mazhab-mazhab Islam).

Maksud dari usaha ini, sebagaimana diisyaratkan oleh namanya, adalah untuk menjembatani kesenjangan antara pelbagai mazhab, dan melahirkan saling penghormatan, memahami, dan menghargai setiap kontribusi mazhab kepada perkembangan fikih Islam di antara ulama-ulama pelbagai mazhab, sehingga mereka pada gilirannya bisa membimbing para pengikut mereka menuju tujuan kesatuan ultimat, dan berpegang pada satu tali, sebagaimana ayat terkenal Quran, Berpeganganlah kepada tali Allah dan janganlah berpecah belah secara jelas tawarkan kepada kaum Muslim.

Upaya keras ini pada akhirnya membuahkan hasil ketika Syaikh Syaltut mengeluarkan pernyataan yang terjemahannya dilampirkan di bawah. Sudah dijelaskan secara terbuka bahwa kedudukan fatwa resmi Azhar ini terhadap setiap mazhab, termasuk mazhab Syi’ah Imamiah, tetap dan tidak berubah sejak deklarasi Syaikh Syaltut.

Sejumlah orang yang mengikuti para ulama-semu di Hijaz boleh jadi tidak sepakat. Kendati demikian, apa yang anda lihat di bawah adalah pandangan yang dipegang oleh mayoritas ulama Sunni, dan bukan hanya pandangan di Azhar. Biarlah diketahui bahwa mereka yang berjuang keras untuk memecah belah kita, sesungguhnya hanya akan beroleh usaha yang sia-sia.

Patut diketahui oleh para pembaca frase asy-Syi’ah al-Imamiyah al-Itsna ‘Asy’ariyah berarti mazhab Syi’ah imamiyah Dua Belas Imam yang terdiri dari kebanyakan Syi’ah dewasa ini. Frase’Syi’ah Dua Belas Imam’ digunakan secara bertukaran dengan ‘mazhab Syi’ah Ja’fari’ dan ‘Syi’ah Imamiah’ dalam aneka macam literatur. Semuanya itu semata-mata nama yang berbeda untuk mozhab yang sama. Sedangkan asy-Syi’ah az-Zaidiyah termasuk pada golongan Syi’ah minoritas, yang kebanyakan berpusat di Yaman yang bertempat di bagian timur Jazirah Arab. Untuk jabaran yang lebih rinci tentang golongan Zaidiyah dan Dua Belas Imam, silakan rujuk buku, Islam Syi’ah karya ulama kondang Syi’ah, Allamah Thabathaba’i.

Berikut ini deklarasi Syaikh Syaltut: Kantor Pusat Universitas Azhar:

Dengan Nama Allah Maha Pengasih Maha Penyayang

Teks dari Fatwa yang Dikeluarkan oleh Yang Mulia Syekh Akbar Kepala Universitas Azhar, Tentang Kebolehan Mengikuti mazhab Syi’ah Imamiyah Yang Mulia, ditanya:
Sebagian percaya bahwa bagi seorang Muslim untuk beramal ibadah dan bermuamalah dengan benar, adalah penting untuk mengikuti satu dari empat mazhab terkenal (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali) sedangkan Syi’ah Imamiyah tidaklah termasuk dari empat mazhab tersebut ataupun Syi’ah Zaidiyah.

Apakah Yang Mulia setuju dengan pendapat ini dan melarang mengikuti mazhab Syi’ah Imamiyah Itsna
Asyariyah, misalnya?
Yang Mulia menjawab:
1) Islam tidak menuntut seorang Muslim untuk mengikuti mazhab tertentu. Sebaliknya, kami katakan: Setiap Muslim mempunyai hak untuk mengikuti salah satu dari mazhab yang disampaikan secara benar dan fatwa-fatwanya telah disusun dalam kitab-kitabnya. Dan setiap orang yang mengikuti mazhab tersebut bisa berpindah ke mazhab lain, dan tidak ada kesalahan pada dirinya untuk melakukan demikian.
2) Mazhab Ja’fari, yang juga dikenal sebagai Syi’ah Imamiyah Itsna Asy’ariyah (yakni Syi’ah Imamiah Dua Belas Imam) adalah sebuah mazhab yang secara agama sah untuk diikuti dalam hal ibadah sebagaimana mazhab Sunni lainnya.

Kaum Muslim haru mengetahui hal ini dan seyogyanya mencegah diri dari prasangka tidak adil kepada mazhab tertentu apapun, karena agama Allah dan hukum suci-Nya (syariat) tidak pemah dibatasi oluh mazhab tertentu. Para mujtahid mereka (mujtahidun) diakui oleh Allah Yang Mahakuasa, dan dibolehkan bagi orang yang’bukan Mujtahid’ untuk mengikuti mereka dan mengamalkan ajaran mereka entah dalam ibadah maupun muamalah.

Tertanda,
Mahmud Syaltut

Catatan:
Fatwa di atas dilansir pada 6 Juli 1959 dari Dewan Universitas Azhar dan selanjutnya diterbitkan di berbagai terbitan di Timur Tengah seperti surah kabar asy-Sya’ab (Mesir ), edisi 7 Juli 1959 dan surah kabar al-Kifah (Lebanan), edisi 8 Juli 8 1959. Bagian di atas dapat juga dijLtmpai di buku Inquiries about Islam karya Muhammad Jawad Chirri, Direktur Islamic Center of America, 1986, Detroit, Michigan, Amerika Serikat.[]


Catatan Kaki


1. Referensi hadis Sunni: Shahih, Baihaqi; Musnad A hmad ibn Hanbal, sebagaimana yang dikutipnya; Syarh, Ibnu Abil Hadid, jilid 2, hal. 449; Tafsir al-Kabir, Fakhruddin Razi, menafsirkan ayat Mubilah, jilid 2, hal. 288. la menulis hadis ini sebagai hadis yang sahih; Ibnu Batutah meriwayatkannya sebagai hadis yang berasal dari Ibnu Abbas. la menyatakannya dalam bukunya Fath al-Mulk al-A li bi Shihah Hadits-eBab-e Madinat al llm , hal. 34, oleh Ahmad bin Muhammad bin Shiddiq Hasani Maghribi; Orang yang telah mengakui bahwa Imam Ali yang merupakan gudang rahasia seluruh nabi adalah pemimpin makrifah, Muhyiddin Arabi, Arif Sya’rani telah menyalinnya di dalam bukunya al-Yuwaqit wa al-jawahir (ha1.172, pembahasan 32).

2. Referensi hadis Sunni: Mizan al-I’tidal, Dzahabi, jilid I, hal. 235; Fadha’il ash-Shahabah, Ahmad bin Hanbal, jilid. 2, hal. 663, hadis 1.130; ar-Riyadh an-Nadhirah, Muhib Thabari, jilid 2, ha1.164, jilid 3, ha1.154; Tarikh, lbnu Asakir. Catatan: ‘genggaman Allah’ artinya kekuasaanNya. Kalimat ‘dalam genggaman Allah’ artinya dalam kerajaan, singgasana, dan kehadiran-Nya.

3. Referensi hadis Sunni: Tarikh, Khatib Baghdadi, jilid 10, hal. 356; as Sawa’iq al-Muhriqah, Ibnu Hajar, bab 9, sub jilid 2, hal. 195.

4. Referensi hadis Sunni: ar-Riyadh an-N adhirah, Muhibuddin Thabari, jilid 2, ha1.172.

5. Referensi hadis Sunni: as-Sawaiq al-Muhriqah, Ibnu Hajar, bab 9, sub jilid 2, hal. 195.

6. Referensi hadis Sunni: Kanz al-Ummal, Muttaqi Hindi, jilid 6, hal. 402; Radd al-Syams, Shathan Fundhaili.

7. Referensi hadis Sunni: Kunuz al-Haqa’iq, Abdurrauf Manawi, hal. 92

8. Referensi hadis Sunni: ar-Riyadh an-Nadhirah, Muhibuddin Thabari; Izalat al-Khifa Maqsad.

9. Referensi hadis Sunni: Kinuz al-Haqa’iq, Abdurrauf Manawi, hal. 92; Tarikh, Khatib Baghdadi, jilid 7, hal. 421.

10. Referensi hadis Sunni: Tarikh, Khatib Baghdadi, jilid 3, ha1.19; Tahdzib al-Tahdzib, Ibnu Hajar Asqalani, jilid 9, hal. 419.

11. Referensi hadis Sunni: Kanz al-Ummal, Muttaqi Hindi, jilid 6, hal. 398.

12. Referensi hadis Sunni: Shahih Muslim, Bahasa Arab, bag. 2, hal. 193; Musnad Ahmad ibn Hanbal, jilid. 3, hal. 45, 384; Sawa’iq al-Muhriqah, Ibnu Hajar Haitsami, hal. 251; Nuzul Isa ibn Maryanr Akhir az-Zaman, Jalaluddin Suyuthi, hal. 57; Musnad Abu Ya’la yang memberi versi hadis yang lain dengan kalimat yang lebih jelas yang berasal dari jabir. Nabi Muhammad berkata, "Sekelompok dari umatku akan terus berperang demi kebenaran hingga Nabi Isa putra Maryam akan turun. Pemimpin zaman saat itu akan memintanya memimpin shalat, tetapi Nabi Isa menjawab, ‘Engkau lebih berhak memimpin shalat dan sesungguhnya Allah telah melebihkan sebagian dafi kalian atas umat lainnya.’

13. Nuzul Isa Ibn Maryam Akhir az-Zaman, Jalaluddin Suyuthi, hal. 56.

14. Referensi hadis Sunni: Fat’h al-Bari, Ibnu Hajar Asqalani, jilid. 5, hal. 362.

15. Referensi hadis Sunni: Sawa"iq al-Muhriqah,Ibnu Hajar Haitsami, bab 11, hal. 19

16. Referensi hadis Sunni: Shahih Muslim, jilid. 4, hal. 47-48; Tafsir Shahih Muslim, Nabawi, jilid 8, hal. 206, dan o1e11 Abi dan Sanusi, jilid 3, ha1. 361; Musnad Ahmad ibn hanbal, jilid 4, hal. 427-428; Sunan, Darimi, jilid 2, hal. 305; al-Mustadrak, Hakim, jilid 3, hal. 472; Tabaqat, Ibnu Sa’d, jilid 7, bag. l, hal. 6; al-Isti’ab, Ibnu Abdul Barr, jilid 3, ha1.1208; Usd a lGhabah, Ibnu Atsir, jilid 4, ha1.138; Jarrri ‘a l-Ushul, Ibnu Atsir, jilid 7, hal. 551; al-Ishabah, Ibnu Hajar Asqalani, jilid 3, hal. 26-27; Tahdzib at-Tahzib, Ibnu Hajar Asqalani, jilid 8, hal. 126; Fath al-Bari, Ibnu Hajar Asqalani, jilid 12, hal. 261; Syarh al-Mawahib, Qastalani, jilid 7, ha1.133.

17. Shahih Bukhari, hadis 4. 675 (versi bahasa Arab-Inggris).

18. Shahih Bukhari, hadis 5.38 (versi bahasa Arab dan Inggris).

19. Catatan: kami menghilangkan nama-nama sahabat Nabi Muhammad saw pada hadis di atas karena kemuhadasannya tidak diyakini kaum Syi’ah. Mengenai pendapat kaum Syi’ah, lihat al-Ghadir, Amini, jilid 5, hal. 42-54, jilid 8, hal. 90-91. Disebutkan bahwa menurut penafsiran kaum Sunni di atas, makna muhaddats di sini berarti seseorang yang diberi bisikan gaib dari Allah, bertemu malaikat, berkomunikasi dengan mereka dan diberitahu tentang berita-berita gaib (jangan samakan dengan ilmu gaib yang hanya dimiliki Allah) mengenai hal-hal yang terjadi saat ini dan yang akan datang, dan para sahabat yang disebutkan pada hadis tersebut memiliki artibut-atribut ini!

20. Beberapa referensi hadis Sunni yang menyebutkan turunnya ayat Quran di atas di Ghadir Khum setelah Nabi Muhammad saw selesai berkhotbah adalah: al-Durr al-Mantsur, Hafizh Jalaluddin Suyuthi, jilid 3, hal. 19; Tarikh, Khatib Baghdadi, jilid 8, hal. 290, 596, dari Abu Hurairah; Manaqaib, Ibnu Maghazali, hal. 19; Tarikh Damaskus, Ibnu Asakir, jilid 2, hal. 75; al-Itqan, Suyuthi, jilid 1, hal. 13; Manaqib, Khawarazmi Hanafi, hal. 80; al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir, jilid 3, hal. 213; Yanabi al-Mawaddah, Quduzi Hanafi, hal. 115; Nuzul al-Quran, Hafizh Abu Nu’aim diriwayatkan dari Abu Sa’id Khudri; dan lain-lain.

21. Referensi hadis Sunni: Ibnu Asakir, sebagaimana yang dikutip dalam Tafsir al-Durr al-Mantsur. 22. Referensi hadis Sunni: al-Mustadrak, Hakim, bab mengenai ‘Mengenal Keutamaan Para Sahabat’, jilid 3, hal. 172.

23. Shahih Bukhari, edisi Arab-Inggris, Dr. Muhammad Muhsin Khan, jilid Z, hal. 236 (referensi 2.423), bab ‘Barang siapa yang Ingin Dikubur di Tanah Suci’; Shnahih Bukhari, edisi Arab-Inggris, Dr. Muhammad Muhsin Khan, jilid 4, hal. 409 (referensi 4.619), Bab ‘Kematian Musa dan Peringatan Setelah Kematiannya’.

24. Referensi Sunni: Tafsir al-Kabir oleh Fakhruddin Razi, bagian 27, ha1.165-166; Tafsir ats-Tsa’labi, sebagai komentar atas Surah asy-Syura ayat 23; Tafsir ath-Thabari, Ibnu Jarir Thabari, di bawah ayat asy-Syisra ayat 23; Tafsir al-Qurthnbi, sebagai komentar atas Surah asy-Syura ayat 23; Tafsir al-Kasysyaf, Zamakhsyari sebagai komentar atas Surah asy Syura ayat 23; Tafsir al-Baidhawi, sebagai komentar atas Surah asy-Syura ayat 23; Tafsir al-Kalbi, sebagai komentar atas Surah asy-Syura ayat 23; al-Madarik, berkenaan dengan Surah asy-Syura ayat 23; Dzakha’ir al Uqba, Muhibuddin ath-Thabari, hal. 25; Musnad Ahmad ibn Hanbal ; ash-Shawa’iq al-Muhriqah, Ibnu Hajar Haitsami, bab 11, pasal 1, hal. 259; Syawahid al-Tanzil, Hakim Haskani Hanafi, jilid 2, hal. 132; Dan banyak lagi yang lainnya seperti Ibnu Abu Hatam, Thabrani dan lainlain.

25. Referensi Sunni: Dzakha’ir al-Uqba, Muhibuddin Thabari, hal. 26; as-Sirah, Mala.

26. Referensi Sunni: ath-Thabaqat, Ibnu Sa’d; as-Sirah, Mala; ash-Shawa’iq a1-Muhriqah, Ibnu Hajar Haitsami, bab 11, pasa 1, hal. 231.

27. Referensi Sunni: Tarikh oleh Khatib Baghdadi; ash-Shawa’iq alMuhriqah oleh Ibnu Hajar Haitsami, bab 9, pasal 2, hal. 193.

28. Lihat ash-Shawa’iq al-Muhriqah oleh Ibnu Hajar Haitsami, bab 11, Pasal l, hal. 261-262 yang menukil dari Hafizh Salafi, Baihaqi, Abu Syekh, dan Dailami.

29. Referensi Sunni: Shahih Tirmidzi, jilid 5, hal. 641; Musnad Ahmad i bn Hanbal, berdasarkan otoritas Imam Ali as; Fadha’il ash-Sahabah oleh Ahmad bin Hanbal, jilid 2, hal. 693, hadis 1.185; ash-Shawa’iq al-Muhriqah oleh Ibnu Hajar Haitsami, bab 11, pasal 1, hal. 264.

30. Referensi Sunni: Fadha’il ash-Shahabah oleh Ahmad bin Hanbal, jilid 2, hal. 658, Hadis#1121; ar-Riyadh an- Nadhirah oleh Muhibuddin Thabari, jilid 3, ha1.176; Majma ‘az-Zazva’id oleh Haitsami, jilid 9, ha1.132; Syarh ibn Abil Hadid, jilid 2, hal. 429.

31. Referensi Sunni: al .M ustadrak oleh Hakim, bab’ Mengenal Keutamaan Para Sahabat’, jilid 3, hal. 172.; ash-Shawa’iq al-Muhriqah oleh Ibnu Hajar Haitsami, bab 11, pasal 1, hal. 259; Dan banyak lagi lainnya seperti Bazzar, Thabrani dan lain-lain.

32. Referensi Sunni: Musnad Ahr nad ibn Hanbal, sebagaimana disebutkan dalam ash-Shawa’iq al-Muhriqah oleh Ibnu Hajar Haitsami; bab 11, pasal l, hal. 259.

33. Referensi Sunni: Tafsir ibrz Katsir (edisi lengkap), jilid 4, hal. 112, di bawah tafsir Surah asy-Syura ayat 23; Thabrani, sebagaimana disebutkan dalam ash-Shawa’iq al-Muhriqah oleh Ibnu Hajar Haitsami, bali 11, pasal l, hal. 259.

34. Referensi Sunni: ath-Thabaqat oleh Ibnu Sa’d; Syaraf an-Nubuwwah oleh Muhibuddin Thabari berdasarkan otoritas Abu Sa’id; ash-Shazva’iq alMuhriqah oleh Ibnu Hajar Haitsami, bab 11, pasal l, hal. 231. 35. Referensi Sunni: ash-Shawa’iq al-Muhriqah, oleh Ibnu Hajar, bab 11, pasall, hal. 225.

36. Lihat ash-Shawa’iq al-Muhriqah, oleh Ibnu Hajar, bab 11, pasal l, hal. 228.

37. Shahi h Bukhari hadis 6.320.

38. Shahi h Bukhari hadis 6.321.

39. Shahi h Bukhari hadis 6.322.

40. Shahi h Bukhari hadis 8.368.

41. Referensi Sunni: Riyadh as h-Shalihin, oleh Nawawi, versi bahasa Inggris, hadis 1.406

42. Referensi Sunni: al-Mustadrak oleh Hakim, bab ‘Memahami (Keutamaan-keutamaan) Pada Sahabat’, jilid 3, hal. 148. Penulis kemudian mengatakan, "Hadis ini sahih berdasarkan kriteria dua Syekh (Bukhari dan Muslim)."; Talkhis of a l-M Mutadrak oleh Dzahabi, jilid 3, hal.l48; Usd al-Ghabah, jilid 3, hal. 33.

43. Referensi Sunni: ash-Shama’iq al-Muhriqah oleh Ibnu Hajar, bab 11, pasal 1, hal. 225, dikutip dari Ahmad bin Hanbal.

44. Referensi Sunni: Daruquthni, dan Baihaqi, sebagaimana dikutip dalam ash-Shawdiq al-Muhriqah oleh Ibnu Hajar Haitsami, bab 11, hal. 349.

45. Referensi Sunni: Fadha’il ash-Shahabah oleh Ahmad bin Hanbal, jilid 2, hal. 655; Hiiyat al-Azvliya oleh Abu Nu’aim, jilid 4, hal. 329; Tarikh oleh Khatib Baghdadi, jilid 12, hal. 289; al-Awsath oleh Thabrani; Majma’ az-Zawa’id oleh Haitsami, jilid 10, hal. 21-22; Daruquthni, yang menyebutkan hadis ini telah diriwayatkan melalui berbagai otoritas; ash-Shawdiq al-Muhriqahl oleh Ibnu Hajar Haitsami, bab 11, pasal 1, hal. 247.

46. Referensi Sunni: al-Manaqib, Ahmad, sebagaimana disebutkan dalam Yanabi al-Mawaddah oleh Qanduzi Hanafi, hal. 62; Tafsir al-Durr al-Mantsur oleh tIafizh Jalaluddin Suyuthi, yang menukil hadis sebagai berikut; "Kami bersama Nabi saw ketika Ali datan kepada kami. Nabi saw berkata, ‘Dia dan syi’ahnya akan mendapatkan keselamatan pada hari pengadilan."

47. Referensi Sunni: Rabi al-Abrar oleh Zamakhsyari.

48. Referensi Sunni: Thabrani berdasarkan otoritas Imam Ali; ash-Shawa’iq al-Muhriqah oleh Ibnu Hajar Haitsami, bab 11, pasall, hal. 236. 49. Referensi Sunni: Hafizh Jamaluddin Dzarandi, berdasarkan otoritas Ibnu Abbas; ash-Shawa’iq al-Muhriqah oleh Ibnu Hajar, bab 11, pasal 1, ha1.246-247.

50. Referensi Sunni: ash-Shazoa’iq al-Muhriqah, oleh Ibnu Hajar, bab 11, pasal l, hal. 236.

51. Referensi Sunni: al-Manaqib oleh Ahmad; ath-Thabrani, sebagaimana dinukil dalam ash-Shawa’iq al-Muhriqah, oleh Ibnu Hajar Haitsami, bab 11, pasal l, hal. 246.

52. Referensi Sunni: ash-Shawa’iq al-Muhriqah oleh Ibnu Hajar Haitsami, bab 11, pasal 1, hal. 233; Tafsir al-Kab ir oleh ats-Tsa’labi, di bawah tafsir Surah Ali Imran ayat 103.

53. Referensi Sunni: al-Mustadrak oleh Hakim, jilid 3, hal 124 berdasarkan otoritas Ummu Salamah; ash-Shawa’iq al-Muhrqah uleh Ibnu Hajar, bab 9, I’asa12, ha1.191,194; al-Azosath Thabrani; jyn Lialam a4r-Shaghir; Tarikh al-Khlafa oleh Jalaluddin Suyuthi, hal. 173.

54. Referensi Sunni: Ibnu Abu Hatam, sebagainuana disuhutkan dalam al-Dir,al-Mantsiar oleh Jalaluddin Suyuthi di dawah tafsiran surat Ali Imran ayat
110. 55. Referensi Sunni: Tafsir al-Dur r al-Mantsur, Hafizh Jalaluddin Suyuthi, dua riwayat: satu dari Ibnu Mardawaih oleh Ibnu Abbad dan kedua dari Ibnu Asakir oleh Abu Jat’far as.

56. Referensi Sunni: Abu Nu’aim dan Ibnu Asakir, berdasarkan otoritas Abu Laila; Ibnu Najjar, berdasarkan otoritas Ibnu abbas; ash-Shawa’iq al-Muhriqah oleh Ibnu Hajar, bab 9, pasal 2, hal. 192-I93.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...