Imam Muhammad Baqir as: “Orang yang mencari ilmu dengan tujuan mendebat ulama (lain), mempermalukan orang-orang bodoh atau mencari perhatian manusia, maka bersiap-siaplah untuk menempati neraka. Kepemimpinan tidak berhak dimiliki kecuali oleh ahlinya”.
LAKUKAN SEKECIL APAPUN YANG KAU BISA UNTUK BELIAU AFS, WALAU HANYA MENGUMPULKAN TULISAN YANG TERSERAK!

فالشيعة هم أهل السنة

Tampilkan postingan dengan label Kebenaran Yang Hilang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kebenaran Yang Hilang. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 November 2011

KEBENARAN YANG HILANG (I) BAB I Sejarah Hidupku

KEBENARAN YANG HILANG (I) 
BAB I Sejarah Hidupku

Hari-Hari Masa Kecilku
Minat keagamaan telah muncul sejak aku kecil, ada fitrah yang menarikku untuk berpegang teguh kepada agama. Dalam bayanganku ke masa depan, pikiranku tidak pernah keluar dari kerangka agama. Aku melihat diriku sebagai pahlawan dan mujahid Islam yang mampu mengembalikan kehormatan agama dan kemuliaan Islam. Pada saat itu aku belum lulus dari sekolah tingkat pertama. Maklum, pemikiranku waktu itu masih dangkal. Begitu pula pengetahuanku tentang sejarah kaum Muslimin dan peradabannya masih sangat terbatas. Aku belum mengetahui kecuali beberapa kisah tentang Rasulullah saw dan peperangan yang dilakukannya terhadap orang-orang kafir, dan kisah tentang kepahlawanan dan keberanian Imam Ali as. Aku mempelajari pemerintahan Mahdiyyah di Sudan, aku merasa kagum dengan kepribadian Usman Daqnah. Dia adalah salah seorang komandan pasukan Mahdi yang pemberani di daerah timur Sudan.
Jihad yang telah membangkitkan minat saya manakala guru sejarah kami menggambarkan keberanian dan keagungan kepribadiannya kepada kami. Dia seorang mujahid di antara bukit dan lembah. Begitulah hatiku tertarik kepadanya. Saya bercita-cita ingin menjadi seperti dirinya. Mulailah saya berpikir dengan pikiran saya yang masih dangkal, bahwa untuk bisa mencapai tujuan ini maka jalan satu-satunya yang terbayang di dalam benak saya ketika itu ialah saya harus menjadi lulusan akademi militer, sehingga saya terlatih dalam strategi perang dan penggunaan senjata. Bertahun-tahun saya hidup di atas angan-angan ini, hingga akhirnya saya pindah ke sekolah tingkatan menengah. Pada tingkatan ini, pemahaman dan pengetahuan saya mulai berkembang. Mulailah saya mengenal para pemimpin kemerdekaan dunia Islam, seperti Abdurrahman al-Kawakibi, as-Sanusi, Umar Mukhtar dan Jamaluddin al-Afghani, seorang pejuang dan pemikir cemerlang yang bertolak dari Afhghanistan, dan kemudian berpindah-pindah dari satu ibu kota negara Islam yang satu kepada ibu kota negara Islam yang lain, dan begitu juga ke negara-negara bukan Islam, untuk menyebarkan pemikiran yang hidup, yang berbicara tentang sisi-sisi keterbelakangan dunia Islam dan bagaimana cara menyembuhkannya.

Rabu, 02 November 2011

Kebenaran yang Hilang, Kekelaman yang Disembunyikan

FARAGH FOUDA (ALM), SEORANG MUSLIM, DIBUNUH OLEH KELOMPOK YANG JUGA MENGAKU MUSLIM, KARENA BERBICARA DENGAN LUGAS DAN DASAR YANG KUAT TENTANG KEBENARAN AGAMA ISLAM DALAM BUKUNYA "HAQIQAH WA GHAIBAH" DI TERJEMAHKAN DALAM BAHASA INDONESIA DENGAN JUDUL "KEBENARAN YANG HILANG"
 
-Red.

Madinat al-Nasr, sebuah daerah di pinggiran Kairo. Tempat hunian bagi para mahasiswa/i al-Azhar dari penjuru dunia, terutama dari kawasan Asia. Tepatnya tanggal 8 Juni 1992, tempat ini menjadi saksi bisu peristiwa penembakan terhadap seorang pengguncang akar kemapanan dalam dunia Islam, yang kemudian berusaha ditutup-tutupi kisahnya oleh para ulama al-Azhar dengan stempel murtad. Bahkan seorang Azharian seperti Muhammad al-Ghazali tak segan mendukung tindakan para algojo bayaran tersebut, siapapun orangnya, dan dari kelompok mana. “Tindakan mereka adalah pelaksanaan hukuman yang tepat bagi seorang yang murtad.”
Lalu siapakah orang yang mati terbunuh ini? Dia adalah Farag Fouda, seorang yang telah divonis murtad oleh sekelompok ulama al-Azhar, dengan alasan bahwa Fouda telah menghujat agama dan karenanya keluar dari Islam. Ini berarti darahnya halal untuk dibunuh. Lima bulan sebelumnya, Fouda sempat mengikuti dialog yang diadakan pada acara Pameran Buku Kairo. Dialog itu dihadiri oleh beberapa ulama al-Azhar, termasuk Muhammad al-Ghazali, Ma’mun al-Hudaibi, dan Muhammad Imara. Temanya berkisar pada persoalan hubungan antara agama dan politik, negara dan agama, penerapan syariat Islam dan khilafah. Terjadi perdebatan sengit yang ujung-ujungnya kelompok Azharian ini mengeluarkan fatwa murtad terhadap Fouda.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...