Lebih dari empat belas abad lalu, Muhammad saw memasuki mekkah,
menjatuhkan seluruh berhala didalam kabah. Mengajarkan bangsawan arab
bahwa semua manusia sama, tidak ada bedanya antara arab dan ajam, kaya
dan miskin, kulit putih dan berwarna, keturunan bangsawan atau orang
biasa, keluarga muhammad atau bukan keluarga muhammad semua memiliki hak
dan kewajiban yang sama di hadapan Allah. Muhammad saw memerintahkan
bangsawan arab dan kaum kaya untuk meratakan dadi-dahi mereka sama rata
dengan kaki para budak mereka! Inilah Risalah Nabi! Meruntuhkan budaya
dan tradisi jahiliah, kuno dan modern. Meluruskan makna hidup!
Mengajarkan kemuliaan hidup. Ia hidupkan kembali risalah Ibrahim a.s,
membangun kembali risalah Kaabah. Risalah Kaabah adalah mensejajarkan
seluruh manusia dari berbagai belahan bumi ini. Tidak perduli anda mampu
membeli pakian berkelas atau tidak anda harus meninggalkannya dan
mengenakan pakaian yang sama, dua helai kain putih untuk menutup aurat,
melakukan training kematian, menshalatkan anda sendiri dan menghadapkan
tubuh anda sendiri kepada kaabah, tidak peduli anda mampu membeli parfum
asli atau palsu anda harus tinggalkan itu semua, anda memiliki
perhiasan atau tidak anda harus tinggalkan, anda berbintang empat atau
bergaris satu, duduk di kursi putar atau di emperan pasar, semua sama,
harus anda tinggalkan. Bertelanjang kaki mengelilingi bait Allah.
Berputar dari tempat yang sama dan berakhir dari tempat yang sama, tidak
perduli apapun mazhab anda semua sama. Titik awal dan akhir kita adalah
sama meski ada yang berjalan lambat atau cepat. Semua sama pada awal
dan akhirnya dan diantara keduanya, itulah risaalah Kaabah!
Imam Muhammad Baqir as: “Orang yang mencari ilmu dengan tujuan mendebat ulama (lain), mempermalukan orang-orang bodoh atau mencari perhatian manusia, maka bersiap-siaplah untuk menempati neraka. Kepemimpinan tidak berhak dimiliki kecuali oleh ahlinya”.
LAKUKAN SEKECIL APAPUN YANG KAU BISA UNTUK BELIAU AFS, WALAU HANYA MENGUMPULKAN TULISAN YANG TERSERAK!
Minggu, 09 September 2012
Sebuah sms berisi tentang kejadian sampang
Sebuah "S'M'S" masuk dalam ponsel ku; dalam pesan itu mengatakan
bahwa; Manisnya syahada "sampang". Beberapa hari sebelum peristiwa
"Hamama" laki-laki paru baya itu bertutur tentang syahada, ia juga
berkali-kali menghaturkan maaf kepada keluarganya terutama kepada
ibundanya yang telah renta. Saat terjadi penyerangan laki-laki itu
meneriakan kalimat" tak seharusnya kebenaran di lawan dengan senjata
tajam". Dengan terpaksa laki-laki itu pun melayani keroyokan beberapa
orang bercelurit hingga tubunya pun roboh. Di akhir-akhir nafasnya
laki-laki itu menepuk-nepuk dada berucap lirih "labbaika ya husein" labbaika ya husain".Hingga
ia pun menjemput syahadanya-nya dengan manis. malam harinya, sang
bundanya yang terbaring lemah di pengungsian berujar dan melihat
putranya datang kepadanya dengan wajah yang tersenyum. Massyaallah.
Sabtu, 08 September 2012
Isu-Isu Penting Ikhtilaf Sunnah-Syi'ah Karya: Sayyid Abdul-Husain Syarafuddin Al-Musawi
![]() |
| Sayyid Abdul-Husain Syarafuddin Al-Musawi |
Peristiwa Ghadir Khum (Bag V) Bagian Kelima:Perlakuan Khusus Rasulullah Saw
Bagian Kelima:Perlakuan Khusus Rasulullah SawPerlakuan Khusus Rasulullah Saw
Salah satu faktor yang membantu kita untuk memahami hadits Ghadir adalah perlakuan Rasulullah Saw terhadap 'Ali As. Menurut timbangan ini, apabila Rasulullah Saw memperlakukan 'Ali As sebagaimana salah seorang sahabat dan bahkan seperti salah seorang kerabat dan anggota keluarganya, dan tidak memandang Hadrat Amirul Mukminin As sebagai memiliki keutamaan maka tidak ada yang dapat dimanfaatkan dari kandungan hadits Ghadir.
Akan tetapi apabila kita tahu bahwa perlakuan Rasulullah Saw terhadap 'Ali As adalah perlakuan yang berbeda dibandingkan perlakuannya terhadap seluruh kaum Muslimin. Jika kita memperhatikan secara seksama dalam perlakuan ini, hal itu akan membimbing kita kepada matlab bahwa Ali di mata Rasulullah Saw berbeda dari yang lain. Dan seluruh usia dan risalahnya berada pada tataran untuk mengerjakan sebuah pekerjaan raksasa yaitu membinanya dan memperkenalkan kepada seluruh kaum Muslimin akan keutamaan yang dimiliki oleh Amirul Mukminin 'Ali As.
Peristiwa Ghadir Khum (Bag IV) Bagian Keempat: Selangit Keutamaan
Bagian Keempat: Selangit Keutamaan
Ghadir merupakan telaga arun yang mata airnya bersumber dari keutamaan Amirul Mukminin As. Tentu saja apabila di kalangan para sahabat Rasulullah Saw ada yang lebih utama dari Amirul Mukminin As, ia akan mendapatkan kehormatan dengan kedudukan ini. Akan tetapi yang benarnya bahwa selepas Rasulullah Saw bukan hanya tidak ada orang yang lebih utama dari Amirul Mukminin, bahkan tidak seorang pun yang dapat mencapai kedudukannya meski hingga kakinya.
Keutamaan-keutamaan 'Ali As yang dinukil dari Rasulullah Saw dan para sahabat melebihi keutamaan-keutamaan yang dinukil ihwal para sahabat.
Padahal dengan politik desktruktif yang mencoba menutupi keutamaannya dan memelihara kedudukannya, mencela dan mencibir Amirul Mukminin As.
Ghadir merupakan telaga arun yang mata airnya bersumber dari keutamaan Amirul Mukminin As. Tentu saja apabila di kalangan para sahabat Rasulullah Saw ada yang lebih utama dari Amirul Mukminin As, ia akan mendapatkan kehormatan dengan kedudukan ini. Akan tetapi yang benarnya bahwa selepas Rasulullah Saw bukan hanya tidak ada orang yang lebih utama dari Amirul Mukminin, bahkan tidak seorang pun yang dapat mencapai kedudukannya meski hingga kakinya.
Keutamaan-keutamaan 'Ali As yang dinukil dari Rasulullah Saw dan para sahabat melebihi keutamaan-keutamaan yang dinukil ihwal para sahabat.
Padahal dengan politik desktruktif yang mencoba menutupi keutamaannya dan memelihara kedudukannya, mencela dan mencibir Amirul Mukminin As.
Peristiwa Ghadir Khum (Bag. III) Bagian Ketiga: Kriteria-kriteria
Bagian Ketiga: Kriteria-kriteria
Rasulullah Saw di samping memperkenalkan 'Ali As sebagai khalifahnya dan kedudukan-kedudukan yang lain pada hari Ghadir dengan penjelasan yang berbeda-beda dengan tegas dan jelas, ia juga memberikan penjelasan-penjelasan yang lain yang konsekuensinya adalah khilafah Hadrat Amirul Mukminin 'Ali As.
Dalam bagian ini, hadits-hadits yang kami sampaikan sebagai kriteria-kriteria, Nabi Saw berada pada tataran penetapan standar dan kriteria dimana umat Islam berada pada posisi salah dan masalah sinkretisasi antara hak dan batil dan pembeda antara hak dan batil, dengan bersandar kepadanya mereka akan menemukan kebenaran dan menjauhi kebatilan.
Dalam hadits-hadits ini, Baginda Nabi Saw menetapkan bahwa 'Ali As adalah pelita hidayah, kriteria iman dan mizan kebenaran. Sesuai dengan hadits ini, 'Ali As bukanlah seorang pemimpin biasa; akan tetapi ia adalah seorang pemimpin Ilahi dimana ucapan dan perbuatannya adalah sebuah ukuran; amalan menjadi benar ketika ia mengerjakannya; ucapan menjadi benar ketika ia menuturkannya, barisan yang benar adalah barisan dimana ia berdiri. Dan barang siapa yang tidak berada dalam barisannya, maka ia adalah sesat dan batil.
Rasulullah Saw di samping memperkenalkan 'Ali As sebagai khalifahnya dan kedudukan-kedudukan yang lain pada hari Ghadir dengan penjelasan yang berbeda-beda dengan tegas dan jelas, ia juga memberikan penjelasan-penjelasan yang lain yang konsekuensinya adalah khilafah Hadrat Amirul Mukminin 'Ali As.
Dalam bagian ini, hadits-hadits yang kami sampaikan sebagai kriteria-kriteria, Nabi Saw berada pada tataran penetapan standar dan kriteria dimana umat Islam berada pada posisi salah dan masalah sinkretisasi antara hak dan batil dan pembeda antara hak dan batil, dengan bersandar kepadanya mereka akan menemukan kebenaran dan menjauhi kebatilan.
Dalam hadits-hadits ini, Baginda Nabi Saw menetapkan bahwa 'Ali As adalah pelita hidayah, kriteria iman dan mizan kebenaran. Sesuai dengan hadits ini, 'Ali As bukanlah seorang pemimpin biasa; akan tetapi ia adalah seorang pemimpin Ilahi dimana ucapan dan perbuatannya adalah sebuah ukuran; amalan menjadi benar ketika ia mengerjakannya; ucapan menjadi benar ketika ia menuturkannya, barisan yang benar adalah barisan dimana ia berdiri. Dan barang siapa yang tidak berada dalam barisannya, maka ia adalah sesat dan batil.
Peristiwa Ghadir Khum (Bag II) Bagian Kedua: Khilâfah dan Wishâyah
Bagian Kedua: Khilâfah dan Wishâyah
Khalifah yang memerintah dengan Kebenaran
Menurut akidah mazhab Syi'ah, khalifah Rasulullah Saw memiliki dua tugas:
1. Pemerintahan Lahir
Yaitu pemerintah yang mengimplementasikan hokum (qanun), menjaga terlaksananya hak-hak dan menjaga negeri-negeri Islam dan sebagainya.
Dalam masalah ini, khalifah seperti para pemerintahan yang lain; dengan perbedaan bahwa dalam pemerintahan Islam terjaganya keadilan social yang merupakan kewajiban dan tipologi pemerintahan Islam.
Khalifah yang memerintah dengan Kebenaran
Menurut akidah mazhab Syi'ah, khalifah Rasulullah Saw memiliki dua tugas:
1. Pemerintahan Lahir
Yaitu pemerintah yang mengimplementasikan hokum (qanun), menjaga terlaksananya hak-hak dan menjaga negeri-negeri Islam dan sebagainya.
Dalam masalah ini, khalifah seperti para pemerintahan yang lain; dengan perbedaan bahwa dalam pemerintahan Islam terjaganya keadilan social yang merupakan kewajiban dan tipologi pemerintahan Islam.
Peristiwa Ghadir Khum (Bag I)
قَالَ رَسُول الله صلّ الله عليه وَ آله
اِنِّي تَارِكٌ فِيكُمُ الثَّقَلَيْنِ: كِتَابَ الله،ِ وَ عِتْرَتِي اَهْلَ بَيْتِي، مَا اِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا لَنْ تَضِلُّوا اَبَدًا، وَانَّهُمَا لَنْ يَفْتَرِقَا حَت?ّ يرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ.
Rasulullah saw bersabda:
"Sesungguhnya Aku tinggalkan pada kalian dua pusaka, Kitabullah dan Itrah (Ahlul Bait), selama kalian berpegang teguh dengan keduanya, maka kalian tidak akan tersesat selamanya. Dan keduanya tidak akan berpisah sampai bertemu denganku di telaga Haudh.
(Sahih Muslim, jilid 7, hal. 122; Sunan Darami, jilid 2, hal. 432; Musnad Ahmad, jilid 4, hal. 14, 17, 26, 59, jilid 4, hal 466, 471, jilid 5, hal. 182; Mustadrak Hakim, jilid 4, hal. 109, 148, 533 dan..)
Jumat, 07 September 2012
SUJUD DI ATAS TANAH
Oleh : EJA JFRApa itu Turbah?
Turbah adalah lempengan tanah (atau tanah liat) yang dipadatkan (dikeringkan dan dibekukan) dan biasanya digunakan oleh pengikut mazhab Syiah ahlulbait ketika sujud saat salat. Turbah berasal dari bahasa Arab yaitu turab, yang berarti debu atau lumpur. Bentuknya bermacam-macam; bulat, kubus, segi delapan atau persegi panjang. Beberapa turbah dihiasi ukiran asma Allah swt., ahlulbait, atau bentuk kubah masjid. Terkadang ada orang yang membalikkan turbah (sisi ukiran berada di bawah) agar lebih nyaman di dahi saat sujud.
Beberapa turbah zaman sekarang bisa menampilkan jumlah sujud dan rakaat yang telah dilakukan. Di dalamnya terdapat gerakan mekanik cakram yang memutar kertas bersimbol ketika seseorang sujud. Cakram akan kembali seperti awal ketika salat selesai. Nampaknya turbah ini dibuat untuk membantu orang yang mudah lupa (was-was) dalam jumlah sujud dan rakaat. Sekedar tambahan, ulama seperti Ayatullah Khamenei sudah memberikan fatwa tentang turbah seperti ini, “Jika ia termasuk benda yang sah dijadikan tempat sujud dan tidak bergerak saat meletakkan dan menekan dahi, maka sujudnya tidak terhalang secara syar’i.”
دعاء كميل - Do'a Kumayl -
Kumayl bin Ziyad Nakha’i adalah sahabat pilihan Imam Ali AS. Ketika Imam Ali AS memerintah, (35-40H), Kumayl dilantik menjadi wali kota Hait. Ia akhirnya menemui kesyahidannya pada tahun 83 hijrah dalam usia 90 tahun atas perintah penguasa zalim, Hajjaj bin Yusuf al-Tsaqafi. Kumayl dimakamkan di suatu tempat bernama Tsaubah, yang terletak di antara Najaf al-Asyraf dan Kufah, di Iraq.Doa Kumayl ini telah diajarkan oleh Imam Ali AS kepada Kumayl RA. Menurut Sayyid Ibn Thawwus dalam kitab Iqbal, riwayat ini disampaikan oleh Kumayl: “Pada suatu hari, saya duduk di masjid Basrah bersama Maulana Amirul Mu’minin Ali AS membicarakan hal Nisfu Sya’ban. Ketika ditanya tentang ayat, “Fiha yufraqu kullu amrin hakim,” (Surah al-Dukhaan Ayat 4), Imam Ali AS mengatakan bahwa ayat ini mengenai Nisfu Sya’ban; orang yang beribadat di malam itu, tidak tidur, dan membaca Doa Hadrat Hidhr AS akan diterima doanya.”
“Ketika Imam Ali pulang ke rumahnya, di malam itu, saya menyusulinya. Melihat saya, Imam AS bertanya, “Apakah keperluan anda ke mari?” Jawab saya, “Saya ke sini untuk mendapatkan Doa Hadrat Hidhr.” Imam mempersilakan saya duduk, seraya mengatakan, “Ya Kumayl, apabila anda menghafal doa ini dan membacanya setiap malam Juma’at, cukuplah itu untuk melepaskan anda dari kejahatan, anda akan ditolong Allah, diberi rezeki, dan doa ini akan dimakbulkan. Ya Kumayl, lamanya persahabatan serta perkhidmatan anda, menyebabkan anda dikaruniai nikmat dan kemuliaan untuk belajar (doa ini).”
Rabu, 05 September 2012
Pokok-Pokok dan Ringkasan Ajaran Syi’ah Bag: 1 (Keimanan Syi'ah Terhadap Tuhan)
Oleh Sinar Agama pada 29 Oktober 2010 jam 19:32
Pokok-Pokok dan Ringkasan Ajaran Syi’ah
Mukaddimah:
(1)Bagi yang memang belum beragama Islam, maka tulisan ini bisa langsung jadi panduan untuk mengetahui keimanan Islam secara madzhab Syi’ah.
(2)-Bagi yang sudah muslim, baik Syi’ah atau Sunni, maka perlu diketahui bahwa tulisan ini ditulis untuk meningkatkan iman yang ada secara temurun. Artinya, iman yang kita warisi dari orang tua kita adalah iman yang baik dan diterima Allah. Akan tetapi ianya tidak terlalu tinggi sehingga dalam istilah ilmu Kalam/Tiologi, berdasarkan kepada QS: 49:14, diistilahkan sebagai Muslim. Yakni, mukminin yang dalam katagori muslim, yakni iman yang berdasarkan kepada “menerima” yang dikatakan orang lain, baik orang tua, guru atau nabi sekalipun, alias belum beragumentasi. Oleh karenanya sangat dianjurkan untuk menelusuri argumentasi keimanannya hingga sampai ke tingkat iman yang sesungguhnya (tidak ikut-ikutan) dan nantinya bisa sampai ke tingkat Yakin. Allah berfirman:
Pokok-Pokok dan Ringkasan Ajaran Syi’ah
Mukaddimah:
(1)Bagi yang memang belum beragama Islam, maka tulisan ini bisa langsung jadi panduan untuk mengetahui keimanan Islam secara madzhab Syi’ah.
(2)-Bagi yang sudah muslim, baik Syi’ah atau Sunni, maka perlu diketahui bahwa tulisan ini ditulis untuk meningkatkan iman yang ada secara temurun. Artinya, iman yang kita warisi dari orang tua kita adalah iman yang baik dan diterima Allah. Akan tetapi ianya tidak terlalu tinggi sehingga dalam istilah ilmu Kalam/Tiologi, berdasarkan kepada QS: 49:14, diistilahkan sebagai Muslim. Yakni, mukminin yang dalam katagori muslim, yakni iman yang berdasarkan kepada “menerima” yang dikatakan orang lain, baik orang tua, guru atau nabi sekalipun, alias belum beragumentasi. Oleh karenanya sangat dianjurkan untuk menelusuri argumentasi keimanannya hingga sampai ke tingkat iman yang sesungguhnya (tidak ikut-ikutan) dan nantinya bisa sampai ke tingkat Yakin. Allah berfirman:
TOKOH INDONESIA BICARA TENTANG SYIAH
Disusun Oleh : Aba Bagir Sgf
Prof. Dr. Umar Shihab (Ketua MUI Pusat):
“Syiah bukan ajaran sesat, baik Sunni maupun Syiah tetap diakui Konferensi Ulama Islam International sebagai bagian dari Islam.” (rakyatmerdekaonline.com)
KH. Said Agil Siradj (Ketua Umum PB NU) :
KH. Said Agil Siradj (Ketua Umum PB NU) :
“Ajaran Syiah tidak sesat dan termasuk Islam seperti halnya Sunni. Di universitas di dunia manapun tidak ada yang menganggap Syiah sesat.“ (tempo.co)
Rukun Iman dan Rukun Islam; Produk Interpretasi Sektarian atau Dogma Final?
Oleh : Muhsin Labib
Artikel di bawah ini menyoroti dua pasang istilah yang karena disalahpahami telah menjadi salah satu penyebab tertumpahnya darah sesama Muslim, sesama warganegara dan sesama manusia, yaitu Rukun Iman dan Rukun Islam
Rukun Iman
Rukun Iman
Banyak orang menjadikan enam rukun iman sebagai salah satu kriteria pembeda antara mukmin dan sesat. Sebagian masyarakat awam menganggap rukun iman dan rukun Islam sebagai paket yang “turun dari langit” yang dipandang final dan tak layak didiskusikan, bukan sebuah produk interpretasi tentang agama dan akidah yang tentu saja spekluatif dan subjektif. Sehingga karena mindset inilah tidak sedikit tuduhan “sesat” dengan mudah dilemparkan terhadap orang atau aliran yang berbeda dalam merumuskan prinsip akidah.
Senin, 03 September 2012
AL FARABI DAN FONDASI FILSAFAT ISLAM
Oleh Muhsin S. Mahdi
Al Farabi adalah seorang pendiri tradisi utama filsafat Islam sebagaimana yang kita kenal saat ini. Penghormatan yang telah diterimanya dari para pelanjutnya tidak selalu diikuti dengan pemahaman yang jelas akan perannya sebagai pendiri atau dengan apresiasi yang lengkap akan pencapaiannya sebagai seorang filosof. Filosof-filosof besar seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, dan Mulla Shadra terus menerus mengingatkan kita bahwa kita perlu tahu banyak tentang sosok yang sudah mencapai puncak ini. Tetapi, mereka tidak selalu menolong kita untuk mengetahui minat pokoknya atau jalan yang telah dia petakan untuk dirinya sendiri. Sebagai filosof, mereka mempunyai minat dan memetakan jalan mereka sendiri-sendiri. Kita harus kembali kepada tulisan-tulisan Al Farabi sendiri. Hanya dengan cara ini, kita dapat sepenuhnya memahami hubungannya dengan para pendahulunya yang mengikuti jalan Islam dan filsafat Hellenistik, dan bagaimana dia membangun tradisi utama filsafat Islam. Karena tulisan-tulisan al Farabi masih dalam proses penelitian, catatan-catatan berikut tidak lebih hanya merupakan kesan-kesan pertama.
Al Farabi adalah seorang pendiri tradisi utama filsafat Islam sebagaimana yang kita kenal saat ini. Penghormatan yang telah diterimanya dari para pelanjutnya tidak selalu diikuti dengan pemahaman yang jelas akan perannya sebagai pendiri atau dengan apresiasi yang lengkap akan pencapaiannya sebagai seorang filosof. Filosof-filosof besar seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, dan Mulla Shadra terus menerus mengingatkan kita bahwa kita perlu tahu banyak tentang sosok yang sudah mencapai puncak ini. Tetapi, mereka tidak selalu menolong kita untuk mengetahui minat pokoknya atau jalan yang telah dia petakan untuk dirinya sendiri. Sebagai filosof, mereka mempunyai minat dan memetakan jalan mereka sendiri-sendiri. Kita harus kembali kepada tulisan-tulisan Al Farabi sendiri. Hanya dengan cara ini, kita dapat sepenuhnya memahami hubungannya dengan para pendahulunya yang mengikuti jalan Islam dan filsafat Hellenistik, dan bagaimana dia membangun tradisi utama filsafat Islam. Karena tulisan-tulisan al Farabi masih dalam proses penelitian, catatan-catatan berikut tidak lebih hanya merupakan kesan-kesan pertama.
Langganan:
Postingan (Atom)
Kumpulan Tulisan
Cari Blog Ini
SALURKAN BANTUAN ANDA UNTUK KORBAN KASUS SAMPANG!! KE REKENING BCA NO
375044015
ATAS NAMA
YAYASAN DANA MUSTADH'AFIN

Total Tayangan Halaman
Entri Populer Minggu Ini
-
Disadur dari buku-buku berbahasa Arab; Madkhal karya Yusuf Amr dan Ushul Al Bahts karya DR Abdul Hadi Al Fadhli Oleh Muhsin Labib P...
-
Dunia Islam dirundung duka atas kepergian sosok ulama agung. Ia adalah manifestasi orang-orang arif yang oleh Rasulullah Saw disebut sebagai...
-
Bagian Terakhir Penegasan Ke-basîth-an Wâjib al-Wujûd Apakah hakikat Wâjib al-Wujûd[1] adalah basîth? Bagaimana hubungan antara ke-basî...
-
Rasulullah saw: Manusia yang paling bijak ialah yang paling banyak mengingat kematian dan yang bekerja paling keras untuk mempersiapkannya...
-
Menurut Kantor Berita ABNA, Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei Sabtu pagi (9/7/2011) dalam per...
-
Mutiara Hadits Imam Ja‘far as “Waspadalah terhadap tiga orang: pengkhianat, pelaku zalim, dan pengadu domba. Sebab, seorang yang berkhiana...
-
Kelompok Ikhwanul Muslimin menganggap kudeta terhadap presiden mereka, DR. Muhammad Mursi merupakan kudeta terhadap agama Islam. Mere...
-
Krisis Suriah - Alarabia Publikasi Photo Korban Gempa sebagai Kejahatan Suriah Islam Times- Salah satu gambar tragis dari korban gemp...
-
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengecam relokasi paksa terhadap penganut aliran Syiah di Sampang, Madura, dari lokasi pengungsi...
-
Oleh: Muhammad Ma'ruf Menarik untuk memperhatikan hasil hipotesa Husein Heryanto tentang kemiripan Agnotisme Imanuel Kan...
Arsip
Label
Al Muqawwamah
(9)
Al-Qur'an
(11)
anti-Islam
(3)
ANTOLOGI ISLAM
(4)
Aqidah
(53)
Bahtsul Masail
(14)
Bangunan Bersejarah
(2)
Belajar Bahasa Persia
(10)
Doa
(4)
Doa Muqatil Ibn Sulayman
(1)
Doa Ziyarah
(1)
Edward Snowden
(1)
Fakta NII.
(3)
Fakta Salafy
(136)
Fatwa Imam Ali Khamenei
(1)
Fatwa Iman Ali Khamenei
(1)
Filsafat
(27)
Fiqh
(14)
Ghadir Khum
(5)
Hadits
(30)
Hari Besar
(4)
Hikmah
(47)
Imamah
(27)
Irfan
(4)
Kata-kata Mutiara
(18)
Kebenaran Yang Hilang
(2)
Keutamaan
(5)
Konspirasi Yahudi
(64)
Krisis Mesir
(6)
Krisis Syiria
(19)
Muhammadiyah
(1)
Mutiara Aimmah
(24)
NU
(11)
Pemalsuan Kitab
(6)
Peradaban
(2)
Protokol Zion
(2)
Psikologi Agama
(2)
Rijal
(63)
Sejarah
(87)
Sejarah Aimmah
(36)
Setan Besar
(1)
Sunniy-Syi'ah
(17)
Tanya-Jawab
(6)
Tempat Bersejarah
(10)
Terorisme
(25)
Tradisi
(8)
Tragedi Sampang
(19)
Ukhuwah Islamiyyah
(24)
Ushul Fiqh
(4)






